RADAR JOGJA - I Wayan Agus Suwartama (IWAS), yang dikenal sebagai Agus Buntung, menjadi sorotan setelah dilaporkan melakukan tindak kekerasan seksual terhadap dua mahasiswi di Nusa Tenggara Barat (NTB) pada Oktober 2024.
Pada 9 Desember 2024, setelah serangkaian proses penyelidikan oleh Polda NTB dan dukungan Komisi Nasional Perempuan wilayah tersebut, Agus resmi ditetapkan sebagai tersangka.
Hingga Minggu (15/12/2024), jumlah korban yang melapor terus bertambah hingga mencapai 17 orang, beberapa di antaranya masih di bawah umur.
Kasus ini menimbulkan pertanyaan publik terkait modus yang digunakan Agus untuk mendekati dan memanipulasi para korban.
Baru-baru ini, sebuah rekaman suara yang diduga merupakan percakapan antara Agus dan salah satu korbannya tersebar di YouTube.
Rekaman tersebut direkam diam-diam oleh korban, memberikan gambaran tentang cara Agus membangun manipulasi emosional terhadap korbannya.
Dalam rekaman itu, Agus terdengar mencoba membujuk korban dengan kata-kata yang terlihat mendukung namun memiliki tujuan tersembunyi.
“Kakak cantik, jangan mau merusak diri. Saya percaya kakak punya ilmu, kakak nggak perlu insecure. Buktiin kalau kakak itu bisa. Enam tahun saya nyari kamu. Entah hati saya kenapa jatuh di sini, dek. Saya nggak senang orang lemah. Lap air mata itu, luntur pupurnya (makeup), nanti gimana kalau ke kampus,” ujar Agus dalam rekaman tersebut.
Ia berusaha menguatkan hati korban sembari menggali informasi pribadi, seperti tempat asal korban.
Agus juga mencoba membangun citra diri sebagai pria yang berani mengorbankan segalanya untuk korban.
“Kalau kakak Hindu ya, demi Tuhan nyawa saya kasih ke kakak. Biar kakak tahu, kakak itu berarti bagi dunia ini. Kakak akan jadi orang yang tertinggi besok. Kalau saya bohong, kapanpun kamu ketemu saya, bunuh saya,” lanjutnya.
Dalam percakapan itu, Agus juga berusaha membandingkan dirinya dengan pria lain, menyatakan bahwa ia berbeda dan tulus, tidak seperti yang ia sebut “cowok-cowok modus.”
“Setengah percaya, sedikit percaya, itu pikiranmu sekarang karena kamu baru kenal saya. Kamu kira saya modus seperti cowok-cowok lain. Mereka cuma manfaatin kamu, buktinya mereka ngerusak kamu,” tambah Agus meyakinkan.
Agus bahkan memberikan penjelasan yang tidak relevan dengan percakapan, menyebut bahwa dirinya masih bergantung pada bantuan orang lain untuk aktivitas sehari-hari, seperti mandi.
“Walaupun kita berdua di kamar, saya tidak bisa apa-apa. Saya masih dimandiin mama. Saya bukan seperti cowok-cowok lain. Karena cowok-cowok itu hanya manfaatin kamu,” tegasnya.
Reka Adegan Kekerasan
Pada 11 Desember 2024, Agus menjalani reka adegan sebanyak 49 kali di beberapa lokasi, termasuk Taman Udayana dan sebuah homestay di Mataram.
Adegan-adegan tersebut menggambarkan kronologi tindak kekerasan seksual yang dilakukan Agus terhadap para korban.
Hingga kini, Agus masih berada dalam tahanan rumah karena keterbatasan fasilitas penahanan bagi penyandang disabilitas.
Sementara itu, polisi terus mengumpulkan barang bukti tambahan untuk memperkuat kasus hukum terhadapnya.
Kasus Agus Buntung tidak hanya mengguncang publik tetapi juga menyoroti pentingnya perlindungan bagi korban kekerasan seksual, khususnya perempuan muda, di Indonesia. (Latri Rastha Dhanastri)
Editor : Winda Atika Ira Puspita