Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Kasus Remaja Habisi Nyawa Ayah dan Nenek Gegerkan Jakarta Selatan Diduga Dipicu Bisikan Gaib: Ini Detail Penjelasannya

Izzatul Akmal Fikri • Senin, 2 Desember 2024 | 21:26 WIB

Kasus remaja membunuh keluarga di Jakarta Selatan diduga dipicu gangguan psikologis yang memunculkan halusinasi.
Kasus remaja membunuh keluarga di Jakarta Selatan diduga dipicu gangguan psikologis yang memunculkan halusinasi.


RADAR JOGJA - Jakarta Selatan diguncang kabar tragis dari sebuah kasus pembunuhan yang melibatkan seorang remaja berinisial MAS (14).

Remaja ini diduga nekat menghabisi nyawa ayahnya, APW (40), dan neneknya, RM (69).

Tak hanya itu, ia juga menyerang ibunya, AP (40), yang kini berada dalam kondisi kritis akibat luka serius.

Kasus ini memunculkan pertanyaan besar mengenai motif di balik tindakan keji tersebut.

Polisi hingga kini masih menyelidiki insiden tersebut untuk memahami apa yang mendorong MAS melakukan tindakan brutal terhadap keluarganya sendiri.

Berdasarkan interogasi awal, MAS mengaku bahwa dirinya sering mendengar "bisikan gaib" yang terus-menerus mengganggunya sebelum kejadian.

Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Selatan AKBP Gogo Galesung mengatakan, remaja tersebut merasa sulit tidur dan terganggu oleh suara-suara yang muncul di pikirannya.

Gogo menambahkan, bahwa suara-suara itu membuat MAS tidak tenang dan seolah-olah memberikan pengaruh yang buruk pada tindakannya.

Dalam dunia psikologi, fenomena seperti ini dikenal sebagai halusinasi auditorik.

Psikolog klinis Anastasia Sari Dewi menjelaskan, bahwa halusinasi auditorik merupakan salah satu gejala psikotik yang dapat muncul ketika seseorang mengalami gangguan mental.

Gejala ini, menurut Anastasia, menyebabkan individu sulit membedakan antara kenyataan dan imajinasinya.

Ia menjelaskan bahwa halusinasi dapat muncul dalam berbagai bentuk, seperti suara-suara yang terdengar, bayangan yang terlihat, atau sensasi yang dirasakan pada kulit.

Anastasia menyebutkan, kondisi seperti ini sering dikaitkan dengan gangguan skizofrenia, meskipun pemeriksaan lebih mendalam diperlukan untuk memastikan diagnosis.

Pun faktor-faktor seperti cedera kepala, kelelahan ekstrem, atau tekanan emosional yang mendalam dapat memicu munculnya halusinasi.

Ketika seseorang mengalami stres berat yang bercampur dengan amarah, kebencian, atau rasa sakit hati, emosinya dapat memuncak hingga menciptakan delusi atau keyakinan yang salah.

Menurutnya, tekanan emosional yang berkepanjangan dapat membuat seseorang merasa putus asa dan rentan terhadap ide-ide berbahaya, termasuk bisikan-bisikan yang seolah memerintah seseorang melakukan hal yang merugikan.

Sementara itu, polisi terus mendalami kasus ini dengan memeriksa latar belakang keluarga, kondisi psikologis MAS, dan situasi yang mungkin memicu peristiwa tragis tersebut.

Barang bukti yang relevan sedang dikumpulkan untuk menguatkan hasil penyelidikan.

Editor : Winda Atika Ira Puspita
#gejala psikotik #gangguan mental #halusinasi #kasus pembunuhan #remaja #Jakarta Selatan