KEBUMEN - Salah satu pendukung pasangan calon (Paslon) Pilakda Kebumen Arif-Rista diduga menerima intimidasi dari sekelompok orang pada Sabtu (28/9). Perlakuan tersebut dirasakan Iwan Setiadi, warga Kebumen. Selain intimidasi, korban juga mengaku sempat mendapat tamparan.
Intimidasi yang diterima Iwan berlangsung di depan Pendopo Kabumian. Aksi intimidasi tersebut pun sempat terekam kamera pengawas. Dalam video beredar, Iwan tampak didatangi sekelompok orang dengan menggunakan mobil bergambar paslon tertentu.
Lalu, dalam potongan video Iwan terlihat diseret secara paksa ke belakang mobil. Mendapat perlakuan itu, Iwan kini sudah melaporkan aksi intimidasi tersebut ke Polres Kebumen. "Kebetulan Iwan ini anggota kami di Garuda Perak," kata Pendamping Hukum Iwan Setiadi, Kartiko Nur Rakhmanto, Selasa (1/10).
Baca Juga: Leonard Tupamahu Akui Berat Perjalanan PSS Sleman di Musim Ini, Segera Lakukan Evaluasi
Kartiko menerangkan, intimidasi tersebut berawal dari perdebatan di media sosial perihal Pjs Bupati Kebumen yang tidak menempati rumah dinas bupati. Dalam perdebatan itu, Iwan sempat menjelaskan kenapa Pjs Bupati Kebumen tidak menempati rumah dinas karena sedang dalam proses renovasi. Sedangkan Pjs memilih tinggal di rumah dinas wakil bupati karena kondisi tidak memungkinkan.
Namun, penjelasan yang disampaikan Iwan ternyata tidak dapat diterima salah satu akun. Lalu, di tengah perdebatan panas Iwan mengajak pemilik akun tersebut datang ke lokasi untuk pembuktian.
Tak disangka, pemilik akun tersebut mengajak lebih dari lima orang untuk bersama mendatangi Iwan. "Cuma ingin meluruskan. Jadi sempat diajak cek bareng. Tapi dari pihak sana begitu datang sempat salaman. Bicara sebentar, langsung ditampar," ungkapnya.
Baca Juga: Kawasan Borobudur Dikelola Satu Pintu, Erick Thohir: Koordinasi di Bawah Kementerian BUMN
Tak hanya tamparan, Iwan juga sempat didorong sembari mendapat perkataan kasar dari sekelompok orang tersebut. Selain itu, kunci sepeda motor korban diambil paksa ketika berniat akan pergi dari lokasi kejadian.
"Bukti sudah ada. Korban masih syok. Semalam istrinya juga ketakutan terhadap kasus ini," katanya.
Kartiko mengaku, tensi politik di Kebumen memang semakin memanas jelang Pilkada 2024. Namun, bukan berarti tim pemenangan atau relawan paslon dengan mudah memakai cara kekerasan.
"Tentu ini tidak bisa dibenarkan. Sudah masuk kriminal. Soal terkait Pilkada, semua orang berhak atas pilihan masing-masing," ungkapya. (fid/pra)
Editor : Heru Pratomo