GUNUNGKIDUL - Ratusan warga memadati Padukuhan Mendak, Kalurahan Girisekar, Kapanewon Panggang, Kabupaten Gunungkidul, untuk mengikuti prosesi sakral pembukaan kain mori pusaka Cupu Kyai Panjolo Senin (19/10/2026) malam hingga Selasa dini hari (20/10/2026).
Tradisi tahunan yang telah berlangsung turun-temurun selama sekitar lima abad ini berjalan khidmat dan lancar.
Prosesi pembukaan atau bukaan sikep Cupu Kyai Panjolo dimulai sekitar pukul 23.50 WIB diawali dengan pembacaan doa.
Rangkaian ritual yang membuka lapis demi lapis kain mori pembungkus pusaka tersebut rampung pada pukul 01.45 WIB.
Baca Juga: Dorong Regenerasi Seniman, Festival Pedalangan 2026 Digelar di Gunungkidul
Lurah Girisekar sekaligus bagian dari trah penjaga pusaka, Sutarpan mengatakan, seluruh rangkaian acara berlangsung tanpa hambatan.
Ia menegaskan pihak juru kunci tidak memberikan penafsiran atau arti khusus terhadap berbagai temuan yang muncul pada kain mori maupun kondisi fisik cupu.
"Wallahualam, kami tidak bisa mengartikan. Kami hanya berdoa agar isi cupu tadi membawa keberkahan bagi kita semua," ujar Sutarpan usai acara, Selasa (20/10/2026).
Pihaknya menyerahkan sepenuhnya pemaknaan atas berbagai simbol tersebut kepada masyarakat luas.
Dalam tradisi ini, terdapat tiga pusaka cupu yang disimpan di dalam peti dan dibungkus kain mori hingga menyerupai bentuk gunungan, yakni Semar Kinandu, Palang Kinantang, dan Kenthiwiri.
Baca Juga: Kerusuhan dan Penjarahan Melanda Prancis, Jam Malam Diberlakukan di Sejumlah Kota
Berdasarkan kepercayaan warga setempat, Semar Kinandu merepresentasikan kondisi penguasa, Palang Kinantang melambangkan masyarakat kelas menengah, dan Kenthiwiri diasosiasikan dengan rakyat jelata.
Berdasarkan posisi akhirnya, cupu Semar Kinandu dan Palang Kinantang terpantau berdiri tegak, sementara Kenthiwiri berada dalam posisi miring ke arah tenggara.
Catatan Lengkap Hasil Bukaan Mori Cupu Kyai Panjolo
Selama prosesi pembukaan kain pembungkus, panitia mencatat puluhan simbol berupa gambar, tulisan, maupun benda-benda tertentu:
-
Sisi timur: Gambar Pulau Sulawesi.
-
Sisi barat daya: Gambar ikan air tawar sebanyak lima ekor.
-
Sisi barat daya: Bercak merah kering.
-
Sisi tenggara: Gambar kekayon gunungan.
-
Sisi barat: Gambar anak perempuan berambut pendek.
-
Sisi timur: Gambar dua anak kecil, kakak beradik, sedang berlari.
-
Sisi barat: Gambar Semar.
-
Sisi barat daya: Gambar lambang Garuda.
-
Sisi timur: Gambar perahu kecil.
-
Sisi selatan: Ditemukan sehelai rambut.
-
Sisi timur: Terdapat angka 8.
-
Sisi barat laut: Gambar burung menghadap ke selatan.
-
Sisi timur: Gambar Semar, Petruk, dan Bagong.
-
Sisi barat: Gambar anjing laut.
-
Sisi barat laut: Gambar wayang Narodo menghadap ke utara.
-
Sisi barat: Gambar tikus.
-
Sisi barat laut: Gambar anjing.
-
Sisi barat daya: Gambar wayang Burisrawa.
-
Sisi timur: Gambar bibir atau mulut.
-
Sisi tenggara: Bentuk menyerupai isi cabai.
-
Sisi utara: Gambar mentok.
-
Sisi timur: Gambar gunung dengan puncak berlubang.
-
Sisi selatan: Gambar perempuan menghadap ke timur.
-
Sisi barat laut: Gambar gajah.
-
Sisi timur laut: Gambar kepala kuda.
-
Sisi timur: Terdapat angka 3.
-
Sisi utara: Gambar perempuan menghadap ke utara.
-
Mori terakhir: Gambar ayam jantan bersama ayam betina.
-
Kondisi kain: Sebagian besar singep (mori) pertama hingga terakhir dalam kondisi basah atau lembap, sementara dua lembar lainnya kering.
-
Peti pusaka: Tutup peti sisi timur dilaporkan berlubang.
-
Kondisi dalam peti: Saat peti dibuka, bunga di dalamnya didapati dalam kondisi gosong atau hangus.
Baca Juga: Truk Box Terguling di Tanjakan Slumut Pakis Magelang, Tiga Orang Meninggal Dunia
Tradisi warisan budaya yang telah melewati estafet kepemimpinan juru kunci hingga delapan generasi ini rutin digelar setahun sekali.
Pelaksanaannya biasanya disesuaikan dengan penanggalan Jawa menjelang musim tanam, yakni pada mangsa kapat atau kalima yang jatuh pada bulan Oktober atau November. (zik)
Editor : Meitika Candra Lantiva