Cabai Tembus Rp 75 Ribu, PKK Kelor Pilih Tanam Sendiri hingga Raup Untung 40 Persen

Dzika Fajar • Dipublikasikan Rabu, 7 Oktober 2026 | 20:54 WIB
TAK CUMA BELI: Anggota PKK Kalurahan Kelor memanen cabai hasil budidaya kelompok di tengah tingginya harga cabai di pasaran. Dzika Fajar/Radar Jogja
TAK CUMA BELI: Anggota PKK Kalurahan Kelor memanen cabai hasil budidaya kelompok di tengah tingginya harga cabai di pasaran. Dzika Fajar/Radar Jogja
 
GUNUNGKIDUL - Harga cabai rawit merah yang terus bergerak naik menjadi peluang bagi PKK Kalurahan Kelor, Kapanewon Karangmojo. Ketimbang hanya ikut terdampak mahalnya harga di pasaran, mereka memilih menanam cabai secara bersama-sama.
 
Hasilnya bukan sekadar untuk memenuhi kebutuhan pangan. Cabai yang dipanen dijual kepada pedagang maupun anggota PKK. Keuntungan penjualan kemudian diputar untuk membiayai kegiatan organisasi sekaligus mendukung program ketahanan pangan keluarga.
 
Ketua Pengembangan Desa B2SA Kalurahan Kelor Alifatun Mardiah mengatakan, budidaya cabai tersebut menjadi salah satu cara kelompoknya bertahan di tengah harga komoditas yang fluktuatif.
 
Baca Juga: Gandeng Universitas Janabadra, PSIM Jogja Bakal Bangun Training Ground Berstandar FIFA di Sleman
 
“Jadi kita termasuk yang bertahan. Kita mengupayakan terus bertahan,” kata Alifatun, Rabu (7/10).
 
Cabai dipilih karena harganya tengah tinggi. Berdasarkan harga di pasaran, cabai rawit merah yang sebelumnya berada di kisaran Rp40 ribu per kilogram kini telah menembus Rp75 ribu per kilogram.
Alifatun menyebut satu kali penanaman cabai masih bisa menghasilkan panen hingga tujuh sampai delapan kali. Setiap kali panen, hasilnya dipasarkan sehingga kebun yang dikelola bersama tersebut juga memberikan pemasukan bagi PKK.
 
“Keuntungan bisa 30 sampai 40 persen dari modal awal. Bisa menghidupi kegiatan hingga membeli seragam,” ujarnya.
 
Baca Juga: Bansos Digital Gunungkidul Siapkan 2.000 Agen, Lansia hingga Warga Gaptek Dibantu
 
Keuntungan itu tidak seluruhnya digunakan untuk kebutuhan organisasi. Sebagian disiapkan untuk kembali mendukung program ketahanan pangan keluarga, salah satunya melalui penyediaan bibit bagi anggota PKK.
 
“Misalnya untuk membeli bibit bagi anggota PKK, kemudian mereka bisa menanam di rumah,” jelasnya.
 
Anggota PKK Kelor Eny Muslimah mengatakan, pengelolaan tanaman dilakukan secara gotong royong. “Pakai sistem piket 25 orang, termasuk pada saat panen,” katanya.
 
Program tersebut telah berjalan sejak 2025. Selain mengelola tanaman secara bersama-sama, anggota PKK juga didorong memanfaatkan pekarangan rumah masing-masing untuk menanam kebutuhan pangan.
 
Baca Juga: DPRD Sleman Turun Tangan Tangani Kekerasan Seksual, Perda Fasilitasi Pesantren Jadi Dasar Pengawasan
 
Hasil panen cabai pun tak selalu dibawa ke pasar. Sebagian dibeli anggota PKK maupun tukang sayur di sekitar wilayah Kelor. Harga yang diberikan kepada anggota relatif lebih murah dibandingkan harga di pasaran.
 
Di sisi lain, Kepala Bidang Perdagangan Dinas Perdagangan dan Tenaga Kerja Gunungkidul Ris Heryani mengatakan, cabai rawit termasuk komoditas yang paling sering mengalami perubahan harga dibandingkan bahan kebutuhan pokok lainnya.
 
Pergerakan harga cabai rawit sepanjang tahun ini cukup dinamis. Kenaikan terbaru berlangsung secara bertahap, dari sekitar Rp40 ribu per kilogram hingga mencapai Rp75 ribu per kilogram pada awal Oktober.
 
Baca Juga: HUT ke-270 Kota Jogja, Kerja Lebih Keras Lagi: Komisi A DPRD DIY Soroti Lapangan Kerja hingga Sampah
 
Menurut Ris, pergerakan harga tersebut berkaitan erat dengan ketersediaan pasokan. Ketika stok berkurang sementara permintaan tetap tinggi, harga cabai cenderung meningkat. Kondisi pasokan dari luar daerah juga turut memengaruhi pergerakan harga. (zik)
Editor : Winda Atika Ira Puspita
Harga Cabai Rawit Merah PKK Kelor Tanam Sendiri raup untung Karangmojo