Truk Damkar Tak Bisa Masuk karena Terkendala Medan, Damkarmat Gunungkidul Siapkan 10 Ransel Air

Dzika Fajar • Dipublikasikan Kamis, 24 September 2026 | 05:00 WIB
PEMADAMAN API: Petugas Damkarmat Gunungkidul memadamkan api secara manual di Patuk, Gunungkidul. (Dok. Damkarmat Gunungkidul)
PEMADAMAN API: Petugas Damkarmat Gunungkidul memadamkan api secara manual di Patuk, Gunungkidul. (Dok. Damkarmat Gunungkidul)

GUNUNGKIDUL - Penanganan kebakaran di Gunungkidul menghadapi tantangan medan terjal dan akses jalan sempit. Kondisi tersebut membuat armada pemadam kebakaran tidak selalu bisa mendekati titik api.

Untuk mengatasi kendala itu, UPT Damkarmat Gunungkidul mulai melengkapi petugas dengan peralatan pemadaman yang bisa dibawa langsung ke lokasi. Salah satunya ransel air yang digunakan untuk menjangkau titik api yang sulit didatangi kendaraan.

Sebanyak 10 unit ransel air telah direalisasikan setelah pengadaannya diajukan melalui Belanja Tidak Terduga (BTT).

Baca Juga: Air Jadi Beban Baru bagi Warga Bojongsari saat Kemarau, Harus Membeli Rutin Rp 500 Ribu Per Bulan

Kepala UPT Damkarmat Kabupaten Gunungkidul Handoko mengatakan akses menjadi salah satu kendala utama dalam penanganan kebakaran, terutama di wilayah dengan kondisi geografis terjal.

“Seperti kasus di Serut Gedangsari, truk damkar tidak bisa masuk, jadi menggunakan mobil Ceri (pikap),” kata Handoko, Rabu (23/9).

Menurut dia, kondisi serupa berpotensi terjadi di lokasi lain. Karena itu, petugas membutuhkan peralatan yang lebih praktis untuk dibawa ketika armada berukuran besar tidak dapat menjangkau titik kebakaran.

Baca Juga: Pemkab Gunungkidul 85 Ribu Hektare Lahan Disiapkan untuk Penuhi Kebutuhan Pengembangan Bioetanol

Ransel air menjadi salah satu peralatan yang disiapkan untuk kondisi tersebut. Dengan peralatan itu, petugas dapat membawa air secara manual menuju titik api yang berada di luar jangkauan kendaraan.

“Ransel air kemarin kita ajukan melalui BTT. Saat ini sudah terealisasi sebanyak 10 ransel,” ujarnya.

Kebutuhan peralatan pemadaman semakin penting seiring meningkatnya kasus kebakaran di Gunungkidul. Kepala Subbagian Tata Usaha UPT Damkarmat BPBD Gunungkidul Ngadiyono mengatakan kemarau panjang turut menjadi salah satu faktor yang berkaitan dengan peningkatan kejadian kebakaran.

Berdasarkan catatan UPT Damkarmat, sepanjang 2026 telah terjadi 154 kasus kebakaran. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan sepanjang 2025 yang tercatat 59 kejadian.

“Jumlahnya naik signifikan dibandingkan kejadian di 2025. Tahun lalu kebakaran terjadi di 59 lokasi, sedangkan tahun ini 154,” kata Ngadiyono, Rabu (23/9). (cr1)

Editor : Sevtia Eka Novarita
ransel air medan terjal Gunungkidul Kebakaran pemadaman