GUNUNGKIDUL - Penataan pedagang kaki lima (PKL) di pusat Kota Wonosari berlanjut. Pemkab Gunungkidul mulai memperluas Taman Kuliner dengan membangun 90 kios baru. Proyek senilai Rp 783,084 juta ini disiapkan untuk menjadi tempat berjualan permanen bagi pedagang yang sebelumnya menempati sisi barat Alun-Alun Wonosari.
Kepala Bidang Cipta Karya DPUPRKP Gunungkidul, Ashari Nurkalis mengatakan, proyek tersebut kini memasuki tahap persiapan. "Tanda tangan kontrak dengan rekanan sudah dilaksanakan di awal bulan ini," kata Ashari, Senin (21/9).
Tahap awal pekerjaan meliputi pengukuran ulang luasan area Taman Kuliner. Hal itu dilakukan untuk memastikan penataan sekaligus menyesuaikan ukuran kios yang akan dibangun.
Baca Juga: Polresta Jogja Periksa Jukir, Pemilik dan Karyawan Bolosego; Anggota Polisi Turut Diperiksa Propam
Sesuai perencanaan, masing-masing kios berukuran 1,5 x 2,5 meter. Pengerjaan 90 kios memiliki durasi 90 hari kalender dan ditargetkan rampung pada awal Desember 2026.
Ashari memastikan proses pembangunan akan diawasi agar pengerjaan sesuai dengan kontrak dan spesifikasi yang telah ditetapkan. Terlebih, kios tersebut nantinya digunakan untuk aktivitas perdagangan para PKL.
Pembangunan kios tambahan ini sekaligus menjadi bagian dari penataan PKL di kawasan pusat Kota Wonosari. Pedagang yang sebelumnya berjualan di sisi barat Alun-Alun Wonosari telah dipindahkan ke Taman Kuliner.
Baca Juga: Pengadaan Perdana Dikpora Bantul Jadi Alasan Penyaluran Kain Seragam Gratis Siswa SD-SMP Molor
Namun, lokasi yang ditempati saat ini masih bersifat sementara. Dengan tambahan 90 kios, Pemkab menyiapkan tempat berjualan yang lebih permanen sekaligus memusatkan aktivitas PKL di kawasan Taman Kuliner.
Penertiban aktivitas perdagangan di kawasan Alun-Alun Wonosari mengacu pada Perda Nomor 7 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Ketertiban Umum dan Ketenteraman Masyarakat. Dalam aturan tersebut, kawasan alun-alun diatur agar terbebas dari kegiatan berjualan maupun aktivitas usaha lainnya.
Di sisi lain, pembangunan kios baru tersebut mendapat respons positif dari pedagang yang berjualan di sekitar lokasi proyek. Eko Sulistiyo, salah satu pedagang kuliner di belakang area pembangunan, mengaku tidak keberatan dengan aktivitas proyek.
"Walaupun nanti berdekatan dengan proyek, tapi tidak merasa terganggu. Rata-rata operasional pedagang di sini kan sore dan malam, sedangkan biasanya proyek dikerjakan siang," katanya. (cr1/pra)
Editor : Heru Pratomo