GUNUNGKIDUL - Kemarau panjang membuat rumput yang biasa menjadi pakan ternak semakin sulit ditemukan. Peternak kambing di Kalurahan Wunung, Kapanewon Wonosari, Gunungkidul, pun harus mencari alternatif agar ternaknya tetap bisa makan.
Suryanto, warga Kamal, Kalurahan Wunung, membawa tangga dari rumahnya yang tak jauh dari lokasi. Tangga itu digunakan untuk memanjat pohon melinjo dan mengambil bagian tanaman yang masih hijau untuk dibawa pulang sebagai pakan kambing.
Aktivitas tersebut bukan kali pertama dilakukan. Selama kemarau, Suryanto beberapa kali harus mencari pakan dengan cara serupa.
Baca Juga: Geruduk Kepatihan, Buruh DIY Tolak RUU Perlindungan Ketenagakerjaan: Ini Alasannya..
Baginya, pakan tetap harus tersedia meski kondisi lingkungan tidak lagi menyediakan rumput sebanyak biasanya. "Kalau rumput pada kering, ya sekarang ambil dari pohon, walaupun harus penekan (memanjat)," kata Suryanto.
Pilihan mencari dedaunan ke pepohonan dilakukan karena pakan alternatif juga tidak selalu mudah didapat. Di sisi lain, membeli pakan membutuhkan biaya tambahan. "Kalau cuma pakai damen nggak mau," ujarnya.
Suryanto memelihara kambing Jawa Kacang dan telah mengembangbiakkan ternaknya sejak masih kecil. Dalam sekali kelahiran, satu indukan biasanya menghasilkan dua hingga tiga anak.
Baca Juga: “Kam Min Jadi Aku”, Lagu Ananta Sembiring yang Mengajak Pendengar Memahami Perasaan
Karena itu, kebutuhan pakan tidak hanya untuk satu atau dua ekor. Persediaan hijauan harus dicari hampir setiap hari agar seluruh ternak tetap mendapat makanan.
Di tengah persoalan pakan, harga jual kambing juga belum selalu sesuai harapan. Kambing milik Suryanto saat ini berada di kisaran Rp2,5 juta per ekor, tergantung ukuran dan kondisinya. Menjelang Idul Adha, harga kambing dengan ukuran dan kualitas tertentu bisa meningkat hingga sekitar Rp3 juta.
Namun, kenaikan harga pada waktu tertentu belum banyak membantu kondisi peternak saat ini. Suryanto mengeluhkan harga kambing yang dinilainya sedang kurang menguntungkan. "Sekarang harga kambing ra ono aji ne, Mas," keluhnya.(cr1/pra)
Editor : Heru Pratomo