GUNUNGKIDUL - Informasi pangan di Gunungkidul kini dihimpun dalam SIPETANI. Platform tersebut menyediakan sejumlah informasi, mulai harga pangan pokok, proyeksi neraca pangan hingga program pangan yang dapat diakses masyarakat umum.
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul Rismiyadi mengatakan, SIPETANI merupakan inovasi yang digagas Kepala Bidang Ketahanan Pangan drh. Yanno Findria Sukarni bersama tim di lingkungan Dinas Pertanian dan Pangan.
"Sudah digunakan, bisa untuk masyarakat umum," kata Rismiyadi, Kamis (17/08).
Baca Juga: Jokowi Sambangi Korban Gempa di Pulau Palue, Bermalam di Tenda Pengungsian
Melalui SIPETANI, masyarakat dapat mengakses informasi harga pangan pokok dan proyeksi neraca pangan. Platform tersebut juga memuat informasi Gerakan Pangan Murah (GPM), Cakra Anggun atau Cakap Kalori Pangan Anak Gunungkidul, serta Mas Demang (Masyarakat Desa Peduli Keamanan Pangan).
Rismiyadi mengatakan SIPETANI dikembangkan untuk menyatukan data, informasi, dan layanan pangan dalam satu dashboard. Menurutnya, kebutuhan terhadap informasi pangan semakin dinamis sehingga diperlukan akses informasi yang lebih mudah.
"Sehingga dapat menjadi sarana penyediaan informasi yang lebih mudah diakses oleh masyarakat maupun pemangku kepentingan," ujarnya.
Baca Juga: Mental Pemain PSS Sleman Masih Kokoh, Huistra Tekankan Efektivitas Cetak Gol
Data yang tersaji dalam SIPETANI juga dapat digunakan sebagai bahan pengambilan kebijakan berbasis data. Pengembangan platform tersebut menjadi bagian dari pemanfaatan teknologi informasi dalam penyelenggaraan urusan pangan di Gunungkidul.
Di sisi lain, akses terhadap layanan dan informasi pertanian masih menjadi persoalan bagi kelompok masyarakat di tingkat bawah. Sumini, salah satu penggerak KWT Kedungkeris, Kapanewon Nglipar, mengatakan kelompoknya terkadang kesulitan ketika hendak mengajukan bantuan maupun menyampaikan persoalan pertanian.
Baca Juga: Warga Gelar Larung Kerbau di Pantai Carita, Doakan 8 Orang Hilang di Gunung Anak Krakatau
"Kalau seperti itu bagus, karena biasanya laporan kami hanya selesai ditindaklanjuti oleh PPL yang ada di Nglipar sini," kata Sumini.
Menurut Sumini, selama ini persoalan yang disampaikan kelompoknya banyak berhenti pada tindak lanjut penyuluh pertanian lapangan (PPL). Karena itu, akses yang memungkinkan masyarakat menyampaikan kebutuhan atau persoalan secara lebih luas dinilai dapat membantu kelompok tani maupun kelompok wanita tani.(cr1)
Editor : Heru Pratomo