Harga Pengadaan Lebih Terjangkau, Sapi PO Potensial Dikembangkan di Gunungkidul

Dzika Fajar • Dipublikasikan Minggu, 13 September 2026 | 19:08 WIB
ADAPTIF: Sapi PO peserta Kontes Ternak Sapi Lokal Piala Keistimewaan 2026 di Pasar Hewan Siyonoharjo, Wonosari, Sabtu (12/9/2026). (Dok. Pemkab Gunungkidul)
ADAPTIF: Sapi PO peserta Kontes Ternak Sapi Lokal Piala Keistimewaan 2026 di Pasar Hewan Siyonoharjo, Wonosari, Sabtu (12/9/2026). (Dok. Pemkab Gunungkidul)

GUNUNGKIDUL - Sapi Peranakan Ongole (PO) masih menjadi salah satu ternak yang potensial dikembangkan di Gunungkidul. Selain harga pengadaan relatif lebih terjangkau dibandingkan jenis Simmental dan Limousine, sapi lokal tersebut dinilai memiliki biaya pemeliharaan lebih rendah dan mampu beradaptasi dengan kondisi wilayah Gunungkidul.

Staf Bidang Peternakan Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Gunungkidul Sarwanto mengatakan, sapi PO memiliki nilai ekonomi yang cukup menjanjikan bagi masyarakat. Terlebih, jenis sapi tersebut sudah banyak dipelihara peternak Gunungkidul sehingga lebih mudah dikembangkan sebagai usaha peternakan.

“Sapi PO ini merupakan sapi khas Gunungkidul. Terutama untuk kalangan muda,” katanya, Minggu (13/9/2026).

Dia menjelaskan, keunggulan sapi PO salah satunya terletak pada biaya operasional. Meskipun harga jualnya relatif lebih rendah dibandingkan sapi Simmental atau Limousine, kebutuhan biaya pemeliharaan juga dinilai lebih ringan.

 Baca Juga: SMA Global Darussalam Academy Jogja Rayakan HUT Ke-2, Perkuat Pendidikan Islami Berwawasan Global

“Apalagi di tengah kondisi Gunungkidul, terutama di sisi selatan yang begitu ekstrem, pakan, air dan lain sebagainya,” ujarnya.

Dari sisi populasi, Gunungkidul juga memiliki posisi penting dalam pengembangan sapi PO di DIJ. Sarwanto menyebut populasi sapi PO di Gunungkidul menjadi yang terbesar di tingkat provinsi sehingga daerah ini turut menjadi penopang utama keberadaan sapi tersebut. Selain kemampuan adaptasi, dia menilai potensi sapi PO juga terdapat pada aspek reproduksi.

“Dalam segi reproduksi, kalau sapi yang lain mungkin dua sampai tiga kali saja, tapi kalau sapi PO putih ini bahkan bisa sampai 10 kali,” jelasnya.

Kepala DPP Gunungkidul Rismiyadi mengatakan, sapi PO merupakan salah satu ternak unggulan lokal yang masih memiliki ruang untuk dikembangkan. “Harapannya pengembangan sapi PO dapat lebih maju lagi. Masyarakat atau peternak juga dapat belajar lebih banyak dari peternak-peternak yang lain di DIJ,” katanya, Sabtu (12/9/2026).

Baca Juga: Prediksi Skor Sassuolo vs Juventus di Serie A, Bianconeri Menanti Gol Woltemade Ataupun Kolo Muani

Potensi sapi PO tersebut turut terlihat dalam Kontes Ternak Sapi Lokal Piala Keistimewaan 2026 di Pasar Hewan Siyonoharjo, Wonosari, Sabtu (12/9/2026). Sapi PO dari sejumlah wilayah di DIJ dibandingkan berdasarkan kelompok umur dan jenis kelamin.

Penilaian dilakukan tim juri dari Fakultas Peternakan UGM dan Asosiasi Peternak Penggemuk Sapi Indonesia (APPSI) DIJ. Dalam kontes tersebut juga terdapat kategori ekstrem PO dan ekstrem bebas yang dapat diikuti berbagai jenis sapi.(cr1/wia)

Editor : Winda Atika Ira Puspita
sapi po dikembangkan pengadaan rendah Potensial Gunungkidul