RADAR JOGJA - Ikan lisong (Auxis rochei) kaya protein dan jadi sumber penghidupan nelayan, namun kini menghadapi ancaman eksploitasi berlebihan. Simak fakta lengkapnya.
Di balik ukurannya yang tak terlalu besar, ikan lisong menyimpan cerita panjang tentang laut Nusantara. Nama ilmiahnya Auxis rochei, kerabat dekat tuna yang kerap disebut bullet tuna dalam bahasa internasional.
Ikan ini tergolong pelagis, artinya hidup dan berenang di lapisan atas perairan laut. Sebagai ikan karnivora, tongkol lisong berpotensi menjadi inang bagi parasit dalam tubuhnya, sebuah fakta yang penting diketahui konsumen sebelum mengolahnya.
Dari sisi ukuran, penelitian di perairan Majene, Sulawesi Barat, mencatat panjang tubuh ikan tongkol lisong yang tertangkap berkisar antara 16,20 hingga 29,80 sentimeter. Ukuran ini tergolong sedang untuk kelompok ikan pelagis kecil.
Soal kandungan gizi, ikan lisong tidak bisa dianggap remeh. Dagingnya mengandung sekitar 25 persen protein, 2,25 persen mineral, 1,50 persen lemak, dan 0,03 persen karbohidrat, menjadikannya sumber pangan bernilai gizi tinggi bagi masyarakat pesisir.
Baca Juga: Gus Muwafiq Ngerock di Grebeg Minggir 2026 Usai Pimpin Doa Kerukunan dan Kemakmuran Bangsa
Tak heran, permintaan pasar terhadap ikan ini terus tumbuh. Nilai gizi yang tinggi membuat kebutuhan masyarakat akan ikan tongkol, termasuk tongkol lisong, semakin meningkat dari tahun ke tahun.
Menariknya, ikan lisong memiliki pola reproduksi yang cukup unik. Ikan betina lisong memiliki tipe pemijahan ganda dengan kematangan sel telur yang tidak seragam dalam satu ovarium, sebuah mekanisme alami untuk menjaga keberlangsungan populasi.
Musim pemijahannya pun sudah terpetakan oleh para peneliti. Pemijahan berlangsung sejak Juni hingga Oktober, dengan puncaknya terjadi pada Juli dan Agustus, saat kontribusi ikan betina matang gonad mencapai lebih dari separuh populasi yang diamati.
Kemampuan bertelur ikan ini juga tergolong tinggi. Jumlah telur yang dihasilkan berkisar antara 5.062 hingga 229.707 butir per ekor, dengan rata-rata sekitar 81.351 butir setiap kali memijah.
Baca Juga: Update Terbaru Gunung Merapi, Luncuran Lava 2.000 Meter, Status Tetap SIAGA Level III
Namun di balik potensinya yang besar, ikan lisong kini menghadapi ancaman serius. Tingkat pemanfaatannya di beberapa wilayah perairan diduga telah mencapai titik eksploitasi penuh, kondisi yang mengkhawatirkan karena populasi ikan membutuhkan waktu untuk pulih.
Ironisnya, tekanan penangkapan yang tinggi ini kerap tidak diimbangi dengan kesadaran pelestarian. Sebagian nelayan masih cenderung menangkap tanpa memperhatikan cara menjaga kelestarian sumber daya ikan tersebut, sehingga pengelolaan berkelanjutan menjadi mendesak.
Dari sisi keamanan pangan, penelitian di Pulau Bangka juga menemukan hal yang perlu diwaspadai. Empat jenis cacing endoparasit teridentifikasi menginfeksi sampel ikan tongkol lisong yang diperiksa, mengingatkan pentingnya proses pengolahan yang matang sebelum dikonsumsi.
Pada akhirnya, ikan lisong bukan sekadar lauk di meja makan. Ia adalah bagian dari rantai kehidupan laut dan sumber rezeki nelayan yang keberlangsungannya kini bergantung pada bagaimana manusia menjaganya.
Editor : Iwa IkhwanudinSumber : Radar Jogja