Tanggulangi Kasus Bunuh Diri, Gunungkidul Hanya Punya Dua Dokter Jiwa

Dzika Fajar • Dipublikasikan Jumat, 28 Agustus 2026 | 08:09 WIB
Ilustrasi skrining kesehatan jiwa. (Foto: Samvedna Care)
Ilustrasi skrining kesehatan jiwa. (Foto: Samvedna Care)

 

GUNUNGKIDUL – Persoalan kesehatan jiwa masih menjadi pekerjaan rumah Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gunungkidul. Hingga 2026, Dinas Kesehatan mencatat 26 kasus bunuh diri. Di sisi lain, ketersediaan tenaga profesional kesehatan jiwa di tingkat layanan dasar masih terbatas.

“Kami hanya punya dua dokter jiwa,” terang Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Dinkes Gunungkidul Musyanto, Kamis (27/8).

Dua dokter jiwa tersebut untuk mendukung kebutuhan layanan kesehatan jiwa masyarakat. Gunungkidul juga memiliki keterbatasan sumber daya manusia tenaga kesehatan psikolog.

Baca Juga: Sasar Korban Acak, Polisi Buru Tiga Orang Komplotan Penembakan di Maguwoharjo Sleman

Karena itu, dinkes melakukan pendekatan penanganan kesehatan jiwa tidak hanya mengandalkan layanan medis. Dinkes juga memperkuat pendekatan berbasis masyarakat melalui rehabilitasi berbasis masyarakat (RBM).

Program tersebut melibatkan tenaga kesehatan puskesmas, guru, dan pemerintah kalurahan. Mereka dipersiapkan agar memiliki kemampuan mengenali dan memberikan dukungan awal terhadap persoalan kesehatan jiwa di lingkungan masing-masing.

“Kami undang empat nakes setiap puskesmas, guru, kaur kesra dalam rangka membentuk RBM,” ujar Musyanto.

Baca Juga: Bukan Cuma Dikasih Bantuan, 50 Penyandang Disabilitas di Jogja Mau Tetap Produktif: Ini Kata Hasto!

Dinkes juga membentuk kelompok swabantu yang beranggotakan penyandang disabilitas, khususnya penyandang disabilitas jiwa, bersama keluarganya. Kelompok tersebut menjadi ruang untuk saling bercerita, berbagi pengalaman, sekaligus memberikan dukungan.

Upaya pencegahan turut menyasar lingkungan sekolah melalui pertolongan pertama pada luka psikologis (P3LP). “P3LP menjadi instrumen utama dalam penanganan pertama psikologi. Jika diperlukan tindak lanjut kemudian diteruskan ke tenaga profesional,” katanya.

Untuk memperluas akses penanganan, Dinas Kesehatan Gunungkidul menggandeng Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM). Dukungan tenaga dari UGM saat ini telah diberikan di empat puskesmas, yakni Wonosari 1, Wonosari 2, Karangmojo 1, dan Karangmojo 2.

Baca Juga: Cerita Van Gastel Menyelami Budaya PSIM, Kenakan Busana Peranakan hingga Bertemu Sultan

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Gunungkidul Wanda Abrar mengatakan, kerja sama tersebut dilakukan dengan memfasilitasi mahasiswa UGM yang sedang menjalani praktik profesi. “Dari UGM menugaskan mahasiswa kemudian kami fasilitasi,” kata Wanda.

Dalam praktiknya, masyarakat yang membutuhkan layanan terlebih dahulu diperiksa oleh dokter umum. Apabila dari pemeriksaan tersebut diperlukan penanganan psikologis, pasien kemudian dibantu tenaga yang tersedia.

“Kalau ada pasien kita bantu bersama dengan para tenaga kesehatan dari UGM yang sedang praktik profesi,” ujarnya. Upaya tersebut dilakukan karena Gunungkidul belum mampu menyediakan layanan psikologi klinis secara khusus di seluruh puskesmas. (cr1/pra)

Editor : Heru Pratomo
dokter jiwa UGM wonosari Gunungkidul bunuh diri