Gugusan Pasir Pantai Baron Gunungkidul Hilang, Bertahan 14 Tahun sebelum Diterjang Gelombang Tinggi

Dzika Fajar • Dipublikasikan Jumat, 21 Agustus 2026 | 18:01 WIB
TERKINI: Gugusan pasir yang sebelumnya menyerupai pulau di Pantai Baron kini tertutup pasir dan dapat dilewati langsung melalui tanggul laut. (Dzika Fajar/Radar Jogja)
TERKINI: Gugusan pasir yang sebelumnya menyerupai pulau di Pantai Baron kini tertutup pasir dan dapat dilewati langsung melalui tanggul laut. (Dzika Fajar/Radar Jogja)

 

GUNUNGKIDUL - Gugusan pasir yang selama 14 tahun menjadi ciri khas Pantai Baron di Kalurahan Kemadang, Kapanewon Tanjungsari, kini hilang. Gugusan yang menyerupai pulau itu berubah setelah aliran sungai bawah tanah kembali bergeser akibat dinamika gelombang tinggi di kawasan pantai selatan (pansela) Jawa.

Perubahan itu terjadi pada Kamis (20/8) lalu. Aliran sungai bawah tanah yang selama ini bergerak dari barat ke timur, kini mengarah ke utara dan langsung menuju laut melalui sisi barat Pantai Baron.

Koordinator Satlinmas Rescue Istimewa Wilayah II Pantai Baron Marjono mengatakan, gugusan itu terbentuk seiring perubahan arah aliran sungai bawah tanah pada 2012. Selama 14 tahun, aliran bergerak ke timur dan membentuk gugusan pasir yang menyerupai pulau.

"Aliran yang mengarah langsung ke laut terakhir terjadi pada 2012. Setelah itu, aliran berubah menuju timur dan kondisi tersebut bertahan selama 14 tahun hingga kembali berubah pada Kamis (20/8) lalu," kata Marjono, kemarin (21/8).

Baca Juga: Ribuan Peserta Ikuti Upacara HUT RI di Tengah Laut Pantai Baron, Sempat Terkendala Gelombang Tinggi

Menurutnya, perubahan aliran sungai bawah tanah merupakan fenomena alam yang biasa terjadi di Pantai Baron. Namun durasi bertahannya aliran kali ini menjadi yang paling lama dibandingkan perubahan sebelumnya.

"Biasanya hanya dua atau tiga tahun terjadi perubahan. Tapi saat ini perubahan aliran terjadi dalam kurun waktu 14 tahun,” ungkapnya.

Pantauan Radar Jogja pada Senin (17/8) lalu masih mendapati gugusan pasir yang menyerupai pulau tersebut. Namun saat kembali dipantau pada Jumat (21/8), gugusan itu sudah tidak terlihat karena tertutup pasir.

Area yang sebelumnya hanya dapat dijangkau menggunakan perahu, kini bahkan bisa dilewati langsung melalui tanggul laut. Kini air tidak lagi melewati kawasan yang selama ini membentuk gugusan tersebut. Aliran langsung menuju laut dengan mengikuti tebing perbukitan di sisi barat Pantai Baron.

Perubahan itu juga berdampak pada aktivitas wisatawan. Pengunjung kini tidak lagi harus menyeberangi aliran sungai ketika hendak menuju area pasir di Pantai Baron.

Baca Juga: Muara Baros Kembali Tersumbat Pasir Pantai, Lahan Pertanian di Pesisir Bantul yang Terendam

Kepala Bidang Pengembangan dan Destinasi Disparekrafpora Gunungkidul Yohanes Nanang Putranto menyebutkan, perubahan itu merupakan bagian dari dinamika alam kawasan Pantai Baron.

"Ini terjadi karena kondisi alam dan akan selalu seperti itu. Dulu pernah ada ide untuk mengarahkan aliran air sungai, akan tetapi sepertinya alam tidak mau diarahkan oleh manusia. Aliran air dari sungai akan selalu berubah setiap saat," katanya.

Menurutnya, Pantai Baron dalam Perda Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Daerah (Riparda) Gunungkidul memiliki keunggulan sebagai kawasan wisata yang didukung aktivitas kuliner.  "Fenomena alam itu bisa menjadi daya tarik tersendiri. Akan tetapi biasanya hanya terjadi tidak terlalu lama,” ujarnya.

Kepala Disparekrafpora Gunungkidul Hary Sukmono menambahkan, fenomena tersebut dapat dikembangkan sebagai wisata edukasi. "Sebagai daya tarik wisata alam, ini bisa dikemas menjadi wisata edukasi. Ini salah satu karakteristik fenomena kawasan karst dengan sistem sungai bawah tanahnya. Apapun aktivitas pariwisata tetap memperhatikan kearifan alam dan keselamatan pengunjung," ujarnya. (cr1/laz)

 

Editor : Herpri Kartun
Sumber : Radar Jogja
pantai baron aliran sungai sungai bawah tanah gelombang tinggi