GUNUNGKIDUL- Aktivitas belajar mengajar di Madrasah Ibtidaiyah (MI) YAPPI Natah, Kapanewon Nglipar, Kabupaten Gunungkidul, terpaksa dipindahkan ke tiga lokasi berbeda.
Langkah ini diambil usai gedung sekolah tersebut diduga menjadi sasaran pembakaran oleh orang tidak dikenal (OTK) pada Rabu (19/8/2026) pagi.
Kepala MI YAPPI Natah, Dedy Irawan, mengungkapkan bahwa sebanyak 109 siswa kini menumpang belajar di Masjid Arahma, Musala Al Azmi, dan Balai Padukuhan Blembeman 1.
Keputusan pemindahan tempat belajar ini diambil berdasarkan hasil koordinasi bersama pihak komite, kalurahan, dan Kementerian Agama.
Baca Juga: Bukan Sekadar Simulasi, Parlemen Pelajar Jogja Dorong Anak Muda Awasi Kinerja DPRD
"Hari ini proses belajar mengajar kami bagi ke tiga lokasi terdekat agar hak pendidikan anak-anak tetap terpenuhi," ujar Dedy saat ditemui di lokasi, Kamis (20/8/2026).
Insiden ini pertama kali diketahui oleh penjaga sekolah pada Rabu pukul 06.00 WIB.
Pihak sekolah menemukan bekas ceceran bahan bakar jenis solar di beberapa area, seperti bagian belakang gedung dan ruang kelas. Bekas api terlihat membakar area dapur hingga merusak material atap. Selain itu, ditemukan pula tumpukan kertas di depan kelas yang diduga kuat disiapkan sengaja untuk memicu api.
Meski garis polisi di area utama sudah mulai dilepas dan pembersihan gedung mulai dilakukan, area dekat musala masih disterilkan untuk kepentingan penyelidikan tim Inafis Polres Gunungkidul.
Baca Juga: Curtis Jones Segera Jalani Tes Medis di Inter, Liverpool Sepakati Transfer €35 Juta
Sementara itu, Kasi Humas Polres Gunungkidul, Iptu Tukiran, mengonfirmasi bahwa pihaknya telah menerima laporan resmi dari pihak sekolah dan sedang mendalaminya.
"Kasus ini masih dalam penyelidikan Unit Reskrim Polres Gunungkidul. Kami sedang meminta keterangan dari sejumlah saksi, termasuk guru yang pertama kali menemukan indikasi pembakaran tersebut," terang Tukiran.
Hingga Kamis (20/8/2026), pihak kepolisian masih terus mengumpulkan bukti guna mengidentifikasi pelaku serta mengungkap motif di balik dugaan pembakaran sekolah tersebut.
Editor : Meitika Candra Lantiva