Hipertensi Gunungkidul Tertinggi di DIY, Stunting Nglipar Masih 20 Persen

Dzika Fajar • Dipublikasikan Senin, 10 Agustus 2026 | 15:41 WIB
Bupati Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih meresmikan Poskesdes Sendowo Kidul di Kalurahan Kedungkeris, Nglipar, Senin (10/8/2026).  (Dok. Pemkab Gunungkidul)
Bupati Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih meresmikan Poskesdes Sendowo Kidul di Kalurahan Kedungkeris, Nglipar, Senin (10/8/2026).  (Dok. Pemkab Gunungkidul)

 

GUNUNGKIDUL - Prevalensi hipertensi di Gunungkidul mencapai 39,25 persen, menjadi yang tertinggi di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Di sisi lain, persoalan stunting masih menjadi pekerjaan rumah, dengan prevalensi di Kapanewon Nglipar mencapai 20 persen.

Data tersebut disampaikan Bupati Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih saat meluncurkan Kampanye Penggerakan Masyarakat Peningkatan Perilaku Hidup Sehat 2026 sekaligus meresmikan Poskesdes Sendowo Kidul di Kalurahan Kedungkeris, Nglipar, Senin (10/8/2026).

Baca Juga: Persiraja Rekrut Lima Putra Daerah, Ada Pemain 17 Tahun dengan Kontrak Tiga Musim

Menurut Endah, dua persoalan tersebut tidak cukup ditangani melalui pelayanan kesehatan ketika warga sudah sakit.

Pencegahan melalui perubahan perilaku dan pemenuhan kebutuhan gizi menjadi bagian penting untuk menekan risikonya.

Untuk stunting, intervensi diarahkan sejak masa kehamilan.

Ibu hamil, terutama yang masuk kelompok risiko tinggi, didorong mendapat asupan protein, vitamin, dan mineral yang cukup.

“Stunting bukan hanya soal tinggi badan, tapi juga soal kecerdasan. Penanganan harus dimulai sejak kehamilan dengan pemenuhan protein, vitamin, dan mineral yang cukup,” kata Endah.

Baca Juga: KRYD, Polres Kulon Progo Gagalkan Peredaran Miras Ilegal

Salah satu intervensi dilakukan melalui pemberian paket pangan diet khusus kepada 55 ibu hamil risiko tinggi di Gunungkidul oleh Badan Amil Zakat Nasional (Baznas).

Pemenuhan pangan bergizi juga didorong dari tingkat rumah tangga melalui program Taman Gizi.

Dalam program tersebut, kader Posyandu dan Kelompok Wanita Tani (KWT) mendapat stimulan berupa bibit ikan lele dalam galon dan bibit sayuran.

Sementara untuk persoalan hipertensi, pemerintah mendorong penguatan perilaku hidup sehat di masyarakat.

Baca Juga: Sisi Lain Profesi Kusir Andong Malioboro, Ikon Budaya yang Minim Jaminan Sosial

Upaya tersebut mencakup kebiasaan sehari-hari, termasuk menjaga pola makan, kebersihan lingkungan, sanitasi, serta pemeriksaan kesehatan secara berkala.

Namun, penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di Gunungkidul disebut baru mencapai sekitar 33 persen.

Kondisi tersebut menunjukkan masih besarnya ruang untuk memperkuat pencegahan penyakit berbasis perilaku di tingkat keluarga.

Di sisi pelayanan dasar, Poskesdes Sendowo Kidul yang baru diresmikan diharapkan memperpendek akses masyarakat terhadap layanan kesehatan.

Baca Juga: Sultan Brunei Cabut Gelar Kehormatan Menantu, Berlaku Mulai Sekarang

Fasilitas tersebut melayani warga Sendowo Kidul dan wilayah sekitarnya sehingga tidak seluruh kebutuhan pelayanan harus ditangani di Puskesmas Nglipar 1.

Lurah Kedungkeris Rusdi Martono mengatakan keberadaan Poskesdes diharapkan dapat membantu mengurangi antrean di Puskesmas Nglipar 1.

Ke depan, fasilitas tersebut juga diharapkan dapat mendukung pelayanan kesehatan dasar bagi masyarakat. (cr1)

Editor : Meitika Candra Lantiva
Hipertensi Gunungkidul Hipertensi Gunungkidul Tertinggi di DIY Stunting Nglipar Gunungkidul Bupati Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih