Puncak Kemarau Petani di Giriisubo Andalkan Mata Air, 48 Pompa Sumur Bor Dijaga

Dzika Fajar • Dipublikasikan Jumat, 7 Agustus 2026 | 05:06 WIB
Petani mengambil air menggunakan galon untuk memenuhi kebutuhan pertanian saat saluran irigasi mengering akibat kemarau.
Petani mengambil air menggunakan galon untuk memenuhi kebutuhan pertanian saat saluran irigasi mengering akibat kemarau.

 

GUNUNGKIDUL – Kemarau mulai menyulitkan petani mendapatkan air untuk lahan pertanian. Di Jepitu, Kapanewon Girisubo, saluran irigasi yang mengering membuat petani terpaksa mencari sumber air lain agar tanaman tidak mati.

 

Suparlan petani warga Jepitu mengatakan, saat kemarau dirinya mengambil air dari mata air Puring untuk memenuhi kebutuhan lahan.

 

“Kalau kemarau seperti ini terpaksa ambil dari sumber mata air, salah satunya dari mata air Puring sini,” ujar Suparlan, Kamis (6/8).

 Baca Juga: PSIM Jogja Resmi Datangkan Mauro Caballero, Persaingan di Lini Depan Makin Ketat

Menurutnya, kondisi tersebut menjadi pilihan karena air di saluran irigasi tidak tersedia.

 

“Kalau nggak ya nanti pada mati, lha wong air di irigasi saja nggak ada sama sekali,” imbuhnya.

 

Kondisi itu membuat sumur bor menjadi salah satu tumpuan untuk memasok air ke lahan pertanian selama kemarau. Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (DPUPRKP) Gunungkidul pun memastikan pompa di 48 titik sumur bor tetap berfungsi.

 Baca Juga: Diduga Rem Blong di Jalan Menurun Patuk, Dua Truk Terguling usai Tabrakan di Jalan Jogja-Wonosari

Kepala Bidang Sumber Daya Air DPUPRKP Gunungkidul Sigit Swastono mengatakan, monitoring dilakukan untuk memastikan tidak ada pompa yang mengalami kerusakan. Perawatan juga diupayakan selama musim kemarau.

 

“Satu-satunya sumber air saat kemarau ya sumur bor itu, maka kami pastikan pompa dalam keadaan optimal,” katanya.

 

Menurut Sigit, kerusakan pompa harus segera ditangani. Pemkab menargetkan perbaikan tidak lebih dari tiga hari agar pasokan air ke lahan tidak terlalu lama terhenti.

 Baca Juga: Sudah Masuk SMP tapi Masih Berseragam SD, Seragam Gratis Belum Dibagikan: Ini Alasan Pemkab Bantul

“Kalau pompa mati maksimal tiga hari, jangan sampai telat,” ujarnya.

 

Selain pompa sumur bor, DPUPRKP memperbaiki jaringan irigasi yang mengalami kerusakan. Saluran yang pecah dan bocor menjadi sasaran perbaikan agar air bisa kembali mengalir menuju lahan pertanian.

 

Saat ini 13 paket rehabilitasi jaringan irigasi masuk proses kontrak dan ditargetkan mulai dilaksanakan pekan depan. Paket tersebut tersebar di SP Siyono, Senggotan Patuk, Tuk Mudal, Tuk Teleng, SP Kalangbangi, SP Karang Ayu, SP Sumberwojo, Kajar Patuk, Sri Mulyo, Tuk Ponjong, SP Karangwetan, SP Krambil Duwur, dan Pulutan.

 

Setiap paket memiliki pagu Rp100 juta. Total anggaran yang disiapkan untuk 13 paket tersebut mencapai Rp1,3 miliar.(cr1)

Editor : Heru Pratomo
saluran irigasi mata air Gunungkidul sumur bor Girisubo