‎SPAMDes Tak Mengalir, Warga Purwodadi, Tepus Andalkan Sumber Mata Air Mendolo

Dzika Fajar • Dipublikasikan Jumat, 31 Juli 2026 | 06:07 WIB
Seorang warga mengisi galon di Sumber Air Mendolo, Kalurahan Purwodadi, Kapanewon Tepus, Gunungkidul, Kamis (30/7). Warga rela menempuh sekitar tiga kilometer untuk mendapatkan air bersih. (Foto Dzika Fajar)

‎
Seorang warga mengisi galon di Sumber Air Mendolo, Kalurahan Purwodadi, Kapanewon Tepus, Gunungkidul, Kamis (30/7). Warga rela menempuh sekitar tiga kilometer untuk mendapatkan air bersih. (Foto Dzika Fajar) ‎

 

 

GUNUNGKIDUL – Deretan jeriken dan galon bekas air mineral kembali memenuhi kawasan Sumber Air Mendolo di Kalurahan Purwodadi, Kapanewon Tepus, Kamis (30/7).

Sudah sekitar sepekan terakhir, sebagian warga terpaksa mengambil air langsung dari mata air tersebut setelah pasokan air melalui jaringan Sistem Penyediaan Air Minum Desa (SPAMDes) tidak mengalir lancar.

‎Di tengah musim kemarau, mata air yang dikenal warga tidak pernah kering itu kembali menjadi tumpuan. Demi memenuhi kebutuhan air bersih, warga rela menempuh perjalanan sekitar tiga kilometer untuk membawa pulang air yang digunakan memasak, mandi, mencuci, hingga memenuhi kebutuhan pertanian.

Baca Juga: Harga Bawang Merah di Lahan Pasir Pansela Bantul Menurun, DKPP Sebut Panen Raya Berbarangen

‎Warga Padukuhan Winangun, Purwodadi Tumin mengatakan, pasokan air melalui jaringan SPAMDes mulai tersendat sejak sekitar sepekan terakhir. Kondisi tersebut memaksanya kembali mengandalkan Sumber Air Mendolo sebagai sumber air utama. "Sudah semingguan air dari pipa tidak lancar," ujarnya.

‎Menurut Tumin, air yang diambil dari mata air dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga sekaligus menunjang aktivitas pertanian. Meski harus menempuh perjalanan cukup jauh, ia tetap memilih Sumber Air Mendolo karena debit airnya masih stabil. "Air di sini yang enggak pernah habis," katanya.

‎Kondisi serupa dialami Darmanto, warga Kalurahan Purwodadi. Setiap hari ia membawa galon-galon bekas air mineral ke Sumber Air Mendolo untuk memenuhi kebutuhan keluarganya sekaligus mengisi bak penampungan air di rumah.

Baca Juga: MPLS Sekolah Rakyat Kulon Progo Segera Dimulai Meski Pembangunan Belum Rampung, Ortu Diminta Tak Khawatir

‎Baginya, membeli air bersih dari truk tangki swasta bukan pilihan yang mudah karena membutuhkan biaya yang cukup besar. "Kalau sampai tempat saya Rp150 ribu," katanya.

‎Menurut Darmanto, persoalan penyediaan air bersih di Purwodadi bukan hal baru. Berbagai upaya telah dilakukan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, salah satunya melalui pembangunan SPAMDes. Namun, debit sumber air yang menjadi pasokan SPAMDes saat ini tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan seluruh warga, terutama saat musim kemarau.

Di sisi lain, layanan Perumda Air Minum (PDAM) juga belum menjangkau seluruh wilayah Kalurahan Purwodadi yang memiliki 18 padukuhan. Menurutnya, layanan PDAM lebih banyak dinikmati warga yang tinggal di sekitar jalan utama, sementara distribusinya dilakukan secara bergantian dengan pelanggan di wilayah lain.

Baca Juga: 15 Perusahaan Inggris Bidik Peluang Proyek Kereta Api di Indonesia

‎Kondisi yang masih dialami warga hingga kini sebelumnya juga telah menjadi perhatian pemerintah. Sehari sebelumnya, Rabu (29/7/), Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Serayu Opak meninjau Kalurahan Purwodadi sebagai salah satu wilayah yang mengalami kesulitan air bersih pada musim kemarau.

Dalam kunjungan tersebut, BBWS menyalurkan bantuan air bersih sekaligus mengidentifikasi potensi sumber air yang dapat dikembangkan sebagai solusi jangka panjang.

‎Lurah Purwodadi Sugiyanto, berharap langkah pemerintah tidak berhenti pada tahap peninjauan. Menurutnya, masyarakat membutuhkan tindak lanjut nyata agar persoalan kekurangan air bersih yang berulang setiap musim kemarau dapat segera teratasi. "Semoga segera ada tindak lanjut," ujarnya kepada tim BBWS Serayu Opak. (cr1/pra)

Editor : Heru Pratomo
sumber air mendolo SPAMDes jerikan Gunungkidul Tepus