Kasus Kebakaran Lahan Meningkat, BPBD Gunungkidul Perketat Pengawasan Pembakaran Sampah

Khansa Qisthi Fathinah • Dipublikasikan Rabu, 29 Juli 2026 | 11:16 WIB
Kebakaran lahan di perbukitan Gunungkidul. (TikTok/dusunkemesu_gunkid)
Kebakaran lahan di perbukitan Gunungkidul. (TikTok/dusunkemesu_gunkid)

 

RADAR JOGJA - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Gunungkidul memperketat pengawasan terhadap aktivitas pembakaran sampah yang dilakukan masyarakat selama musim kemarau.

Langkah tersebut dilakukan sebagai upaya mencegah meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang rawan terjadi di wilayah Gunungkidul saat kondisi cuaca kering.

Pengawasan dilakukan melalui Satuan Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) BPBD Gunungkidul.

Kebijakan ini diambil setelah terjadi peningkatan jumlah kasus kebakaran lahan sepanjang tahun 2026.

Baca Juga: KAI Daop 6 Catat 126 Ribu Wisatawan Asing Naik Kereta Api ke Jogja dan Solo pada Semester I 2026

Kepala Subbagian Tata Usaha UPT Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Gunungkidul Ngadiyono mengatakan, hingga pertengahan tahun ini tercatat delapan kejadian kebakaran lahan.

Jumlah tersebut meningkat dua kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang hanya mencatat empat kasus.

Menurutnya, sebagian besar kejadian kebakaran dipicu oleh aktivitas pembakaran sampah maupun dedaunan kering yang dilakukan tanpa pengawasan hingga api merambat ke area sekitar.

“Berdasarkan laporan yang kami terima, rata-rata kebakaran disebabkan aktivitas masyarakat yang membakar sampah, karena adanya kelalaian, api membesar dan membakar lahan,” katanya.

Baca Juga: Zinedine Zidane Resmi Latih Timnas Prancis, Gantikan Didier Deschamps dengan Kontrak Empat Tahun

Selain meningkatkan pengawasan, Damkarmat Gunungkidul juga memperkuat upaya edukasi kepada masyarakat.

Sosialisasi dilakukan secara langsung maupun melalui media sosial agar pesan mengenai bahaya pembakaran sampah lebih mudah dipahami masyarakat.

Salah satu metode yang digunakan ialah kampanye berbentuk video parodi tanpa dialog.

Cara tersebut dinilai lebih efektif menarik perhatian masyarakat sekaligus menyampaikan pesan pencegahan kebakaran dengan sederhana.

Baca Juga: Roberto Mancini Resmi Kembali Jadi Pelatih Timnas Italia, FIGC Bidik Kebangkitan Azzurri

“Konsep parodi tanpa suara agar pesan yang disampaikan lebih mudah diterima dan betul mendapat respons positif dari masyarakat," katanya.

Dengan demikian diharapkan mampu meningkatkan kesadaran warga untuk tidak lagi membakar sampah sembarangan, dapat meningkatkan kewaspadaan, sekaligus mengurangi jumlah kejadian kebakaran,” katanya.

Ngadiyono menambahkan, peningkatan kewaspadaan perlu terus dilakukan mengingat Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau masih akan berlangsung dalam beberapa waktu ke depan.

Kondisi tersebut membuat vegetasi menjadi lebih kering sehingga api lebih mudah menyebar apabila terjadi pembakaran terbuka.

Baca Juga: Joan Laporta Pulih dari Gangguan Jantung, Presiden Barcelona Tunda Keberangkatan ke Inggris

Sementara itu, Kepala BPBD Gunungkidul Purwono mengimbau masyarakat menghentikan kebiasaan membakar sampah maupun membersihkan lahan dengan cara dibakar.

Ia juga mengingatkan bahwa karakteristik wilayah Gunungkidul yang didominasi kawasan karst dan lahan kering membuat daerah tersebut sangat rentan terhadap kebakaran saat musim kemarau.


Kebakaran lahan tidak hanya menghanguskan vegetasi, tetapi juga berdampak terhadap kerusakan lingkungan.

Api yang cepat merambat dapat merusak ekosistem karst, menyebabkan lahan menjadi gersang, mengurangi kemampuan tanah menyerap air, hingga meningkatkan potensi terjadinya longsor.

Baca Juga: Zinedine Zidane Resmi Latih Timnas Prancis, Gantikan Didier Deschamps dengan Kontrak Empat Tahun

“Pembakaran lahan dapat memicu kebakaran hutan dan lahan, api cepat merambat karena angin kencang dan vegetasi yang kering, merusak ekosistem karst, menyebabkan lahan menjadi gersang, mengurangi daya resap air, hingga meningkatkan risiko longsor,” katanya.

Selain itu, asap yang ditimbulkan akibat kebakaran juga berpotensi mengganggu kesehatan masyarakat.

Paparan asap dapat memicu infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), gangguan pernapasan lainnya, serta mengurangi jarak pandang pengguna jalan sehingga membahayakan keselamatan.

Baca Juga: Mentan Amran Perkuat Kemitraan RI–Australia, Dadahup Siap Jadi Model Pertanian Rawa Modern

Karena itu, BPBD Gunungkidul mengajak masyarakat memanfaatkan sisa dedaunan maupun limbah pertanian menjadi kompos sebagai alternatif yang lebih aman dibandingkan membakarnya.

“Komposkan dedaunan dan sisa pertanian dengan cara ditimbun di dalam lubang agar dapat dimanfaatkan menjadi pupuk,” ujarnya.

 

Editor : Meitika Candra Lantiva
kebakaran lahan perketat pengawasan Gunungkidul pembakaran sampah BPBD Gunungkidul