Gencar Sosialisasi, Kebakaran Lahan Masih Berulang: Sebulan 12 Kejadian di 11 Kapanewon

Dzika Fajar • Dipublikasikan Senin, 27 Juli 2026 | 19:52 WIB
LAHAN TERBAKAR: Lahan menghitam akibat kebakaran yang terjadi saat musim kemarau di Gunungkidul. Dzika Fajar/Radar Jogja
LAHAN TERBAKAR: Lahan menghitam akibat kebakaran yang terjadi saat musim kemarau di Gunungkidul. Dzika Fajar/Radar Jogja

GUNUNGKIDUL – Di tengah berbagai upaya pencegahan yang terus dilakukan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) Gunungkidul, insiden kebakaran masih terus berulang di sejumlah wilayah. Mayoritas kebakaran saat musim kemarau masih disebabkan oleh kelalaian manusia.

Kepala UPT Damkarmat Gunungkidul Handoko mengatakan, aktivitas membakar sampah, dedaunan, maupun sisa pakan ternak yang ditinggalkan tanpa pengawasan kerap menjadi pemicu api membesar dan sulit dikendalikan.

“Data kami sepanjang Juni lalu petugas menangani 12 kejadian kebakaran yang tersebar di 11 kapanewon,” katanya Senin (27/7/2026).

Baca Juga: Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo Akui Sungai Masih Jadi Tempat Sampah: Ajak Warga Lakukan Ini pada Momentum Hari Sungai Nasional

Memasuki Juli, tren tersebut belum menunjukkan penurunan. Hingga akhir bulan, petugas kembali menangani lebih dari 10 kejadian kebakaran. Sebagian besar dipicu pembakaran sampah maupun lahan di tengah cuaca panas dan angin kencang.

Gambaran tersebut terlihat pada Sabtu (25/7/2026), ketika petugas harus menangani tiga kebakaran lahan dalam sehari di Kapanewon Karangmojo, Wonosari, dan Playen. Berkat respons cepat petugas bersama warga, seluruh kebakaran berhasil dipadamkan sebelum merembet ke permukiman.

Di Kalurahan Ngipak, Karangmojo, api membakar lahan yang berada di dekat rumah warga. Sementara di Kalurahan Duwet, Wonosari, kebakaran diduga bermula dari pembakaran daun dan ranting kering hingga menghanguskan sekitar 1,7 hektare lahan jati.

Baca Juga: Tersangka Kekerasan Anak di Daycare Little Aresha Jogja Bertambah Lagi, Kini Jadi 32 Orang

Adapun di Kalurahan Logandeng, Playen, api diduga berasal dari pembakaran sampah yang merembet akibat embusan angin dan sempat mengancam tiga rumah warga.

Untuk menekan angka kebakaran, pihaknya tidak hanya mengandalkan sosialisasi secara langsung. Berbagai upaya edukasi juga dilakukan melalui media sosial Instagram @damkarmatgunungkidul dengan memproduksi berbagai video kreatif berisi imbauan agar masyarakat tidak membakar sampah maupun lahan selama musim kemarau.

Salah satu video edukasi yang diunggah pada 20 Juli 2026 bahkan mendapat respons besar dari masyarakat dengan meraih sekitar 1,8 juta tanda suka dan telah ditonton lebih dari 15 juta kali.

Baca Juga: Kota Magelang Terancam Darurat Sampah, Mau Tidak Mau Pemkot Lanjutkan Proyek TPST Bojong

Jangkauan yang luas tersebut menunjukkan pesan pencegahan telah diterima jutaan pengguna media sosial. Namun, kasus kebakaran lahan masih terus ditemukan di lapangan sehingga upaya edukasi dinilai perlu terus diperkuat dan diikuti meningkatnya kesadaran masyarakat.

"Kami akan terus mengingatkan masyarakat melalui sosialisasi dan media sosial," ujarnya.

Menurutnya, keberhasilan menekan angka kebakaran tidak hanya bergantung pada petugas, tetapi juga kepedulian masyarakat untuk menghindari penggunaan api terbuka selama musim kemarau.

Baca Juga: Siap Jalani Musim Kedua di PSIM Jogja, Jean Paul Van Gastel: Bertahan Dulu, Baru Bicara Prestasi

Kebakaran yang berawal dari pembakaran sampah dapat dengan cepat menjalar ke lahan, kandang ternak, hingga rumah warga ketika cuaca panas dan angin bertiup kencang.

"Jangan membakar sampah atau lahan saat cuaca panas dan berangin," imbaunya.

Masyarakat juga diimbau agar segera melaporkan apabila menemukan titik api atau kebakaran di lingkungan sekitar.

Dengan penanganan sejak dini, potensi meluasnya kebakaran dapat diminimalisasi sehingga risiko kerugian maupun korban jiwa dapat dicegah.(cr1/wia)

Editor : Winda Atika Ira Puspita
damkarmat gunungkidul kebakaran lahan Berulang kelalaian manusia sosialisasi