Jumat pagi di Padukuhan Sendowo Lor, Kalurahan Kedungkeris, Kapanewon Nglipar, menghadirkan suasana yang berbeda. Dua halte sederhana di sudut padukuhan dipenuhi aneka hasil panen, mulai dari oyong, terong, mentimun, tomat hijau hingga sayuran segar lainnya. Di rak lain, sejumlah bahan kebutuhan pokok juga tertata rapi.
Tak ada penjaga, tak ada kasir, apalagi transaksi jual beli. Warga yang membutuhkan dipersilakan mengambil bahan pangan secukupnya, sementara mereka yang memiliki rezeki lebih dapat menitipkan hasil panen maupun kebutuhan pokok untuk dibagikan kepada sesama.
Tradisi itu dikenal sebagai Jumat Berkah Sendowo Lor, sebuah gerakan swadaya masyarakat yang lahir dari Kelompok Wanita Tani (KWT) Kanthil.
Baca Juga: Satpol PP Kabupaten Bantul Kembali Bongkar Tujuh Reklame di Empat Kapanewon
Berangkat dari kebun-kebun yang dikelola secara mandiri, program tersebut tumbuh menjadi ruang berbagi sekaligus memperkuat ketahanan pangan dan semangat gotong royong di tingkat padukuhan.
KWT Kanthil berdiri sejak 2009 atas prakarsa masyarakat dengan dukungan bantuan Pemkab Gunungkidul saat itu. Berbekal modal awal sebesar Rp10 juta, kelompok tersebut mulai mengembangkan berbagai kegiatan pertanian dan pemberdayaan masyarakat.
Seiring waktu, aset yang dikelola bersama oleh KWT dan PKK terus berkembang hingga kini mencapai hampir ratusan juta rupiah, mulai dari sarana pertanian, dana bergulir, hingga berbagai fasilitas penunjang kegiatan masyarakat.
Baca Juga: Kelanjutan Renovasi Mandala Krida Terancam Tersendat, BPKA dan BPO DIY Beda Pandangan soal Mekanisme Pergeseran Anggaran
Dari fondasi tersebut, warga kemudian merintis program Jumat Berkah pada 2022 dan mulai menjalankannya secara rutin sejak 2023. Program ini lahir dari pengalaman masyarakat menghadapi pandemi Covid-19, ketika aktivitas di luar rumah dibatasi sementara kebutuhan pangan harus tetap terpenuhi.
Salah seorang penggagas KWT Kanthil Sumini menuturkan, ide menghadirkan halte pangan muncul agar warga tetap dapat memperoleh kebutuhan pokok tanpa harus menimbulkan kerumunan.
"Awalnya pada saat pandemi masyarakat tidak bisa keluar rumah, tetapi mereka harus tetap memenuhi kebutuhan pokok. Akhirnya muncul gagasan membuat halte itu," ujarnya.
Baca Juga: MBG Dimulai! Harga Bapok Langsung Melesat: Daya Beli Masyarakat Juga Cenderung Turun, Pembeli Berkurang
Untuk menjaga ketersediaan hasil panen, warga mengelola enam lahan pertanian, terdiri atas lahan yang dikelola di tingkat RT serta satu lahan induk. Setiap lahan ditanami komoditas berbeda dengan pola tanam yang diatur bergiliran sehingga panen dapat berlangsung hampir setiap pekan.
Berbagai jenis tanaman seperti oyong, terong, mentimun, tomat hijau, dan sayuran lainnya menjadi pasokan utama bagi program Jumat Berkah.
Keberlangsungan program juga didukung melalui dana stimulan dari kas PKK padukuhan. Setiap RT yang mendapat giliran piket memperoleh dana sebesar Rp100 ribu setiap pekan untuk membeli hasil panen warga yang kemudian disediakan di halte.
Baca Juga: Made in Jogja, Siswa SMK di DIY Berhasil Merakit Becak Listrik Bekalista
Selain itu, KWT juga mengembangkan dana melalui kegiatan simpan pinjam PKK. Hasil bunga dari pengelolaan dana tersebut dimanfaatkan kembali sebagai stimulan berbagai kegiatan kelompok sehingga program dapat terus berjalan secara mandiri.
Dukuh Sendowo Lor Muhammad Badrun mengatakan, keberhasilan warga mempertahankan program tersebut tidak lepas dari potensi sumber daya alam yang dimiliki.
Sedikitnya terdapat delapan sumber air yang hingga kini mampu memenuhi kebutuhan irigasi, bahkan saat musim kemarau.
Baca Juga: Meritokrasi ala Van Gastel, Performa Pemain Jadi Penentu Tempat di Tim Utama PSIM Jogja
"Sumber air ada sekitar delapan sumber, kemarau tidak pernah kurang air," katanya.
Menurutnya, meski program Jumat Berkah telah diperkenalkan di seluruh wilayah Kalurahan Kedungkeris, hingga kini Sendowo Lor menjadi padukuhan yang masih konsisten menjalankannya berkat keterlibatan aktif masyarakat.
"Harapan saya, setiap rumah memiliki semacam KWT sehingga masyarakat bisa mandiri," ungkapnya. (cr1/pra)
Editor : Heru Pratomo