GUNUNGKIDUL – Pemerintah Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) meluncurkan program Kopi Darling (Kopi Roda Dua Keliling) sebagai upaya memperkuat pemasaran kopi lokal sekaligus mendorong pengembangan komoditas perkebunan unggulan.
Program tersebut diperkenalkan pada pembukaan Geopark Night Specta (GNS) 8.0 dan Festival Cokelat 4.0 di kawasan Embung Nglanggeran, Kapanewon Patuk, Kabupaten Gunungkidul, Jumat (10/7/2026).
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) DIY Aris Eko Nugroho mengatakan Daerah Istimewa Jogjakarta memiliki potensi besar di sektor perkebunan, khususnya kopi dan kakao.
Baca Juga: Perda KTR Longgar, Reklame Rokok Tak Berizin Bermunculan di Kulon Progo
"Jogja merupakan salah satu barometer nasional dalam menghasilkan kopi. Sementara untuk kakao, Gunungkidul menjadi salah satu daerah dengan produksi terbesar," kata Aris saat ditemui awak media.
Menurutnya, perkembangan sektor kakao di Gunungkidul menunjukkan tren positif.
Jika sebelumnya hasil panen lebih banyak dijual dalam bentuk bahan mentah, kini masyarakat mulai mengolahnya menjadi produk bernilai tambah sehingga minat untuk mengembangkan komoditas tersebut terus meningkat.
"Kalau dulu didistribusikan dalam bentuk mentah, sekarang masyarakat mulai mengolah sendiri. Hal itu membuat ketertarikan masyarakat dalam mengembangkan kakao semakin tinggi," ujarnya.
Aris menyebut luas lahan kakao di Kabupaten Gunungkidul saat ini mencapai sekitar 5.250 hektare, menjadikannya sebagai salah satu sentra produksi kakao.
Sementara itu, Sekretaris Daerah DIY Ni Made Dwipanti Indrayanti mengatakan program Kopi Darling merupakan bentuk dukungan pemerintah daerah terhadap pengembangan usaha kopi lokal melalui fasilitas pemasaran yang lebih dekat dengan masyarakat.
"Melalui Dinas Pertanian DIY, dukungan kami diwujudkan melalui bantuan Kopi Darling," katanya.
Ia menjelaskan, setiap unit Kopi Darling telah dilengkapi seperangkat peralatan penyeduh kopi layaknya sebuah kedai kopi berjalan.
"Di motor itu sudah tersedia peralatannya seperti barista, sehingga bisa langsung menyajikan kopi kepada masyarakat," ujarnya.
Sebanyak 20 unit kendaraan Kopi Darling disiapkan untuk mendukung pemasaran kopi lokal.
Sebanyak 10 unit pertama akan disalurkan pada Juli kepada Kabupaten Sleman, Gunungkidul, dan Kulonprogo, sedangkan 10 unit sisanya dijadwalkan menyusul pada Agustus.
Ni Made menegaskan kopi yang dipasarkan melalui Kopi Darling harus berasal dari produk lokal, bukan kopi instan.
"Ada masukan dari Ibu Bupati agar kopi yang dijual melalui Darling bukan kopi instan, tetapi benar-benar kopi produk lokal," katanya.
Baca Juga: Ahli Nuklir Pimpin Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Magelang
Ia berharap program tersebut mampu meningkatkan nilai tambah komoditas perkebunan sekaligus membuka peluang kolaborasi antara kopi dan kakao sebagai produk unggulan DIY.
"Kopi dan kakao yang saat ini menjadi komoditas utama diharapkan bisa terus dikolaborasikan sehingga mampu memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat," pungkasnya.
Editor : Meitika Candra Lantiva