GUNUNGKIDUL - Sebanyak delapan wisatawan kembali tersengat ubur-ubur atau impes di pantai selatan Gunungkidul Minggu (28/6). Korban tersebar di empat kawasan pantai, yakni tiga orang di Pantai Sepanjang, tiga orang di Pantai Kukup, masing-masing satu orang di Pantai Sadranan dan Pantai Sundak.
Koordinator Satlinmas Rescue Istimewa (SRI) Wilayah II Baron Marjono menjelaskan, fenomena kemunculan ubur-ubur di pesisir selatan Gunungkidul bukan pertama kali terjadi tahun ini. Sebelumnya, biota tersebut mulai terlihat di Pantai Sepanjang pada pertengahan Juni. Bahkan, pada pertengahan Mei lalu tiga anak juga menjadi korban sengatan impes. "Hingga sekarang sudah ada 16 wisatawan yang tersengat ubur-ubur sejak kemunculan pertama pada Mei. Korbannya didominasi anak-anak," katanya saat dihubungi Senin (29/6).
Dia menjelaskan, puncak kemunculan ubur-ubur diperkirakan terjadi pada awal Juli hingga Agustus. Kondisi tersebut dipengaruhi gelombang laut yang mulai tinggi serta suhu perairan di tengah laut yang lebih dingin. Sehingga ubur-ubur bermigrasi ke perairan dangkal dan akhirnya terdampar di bibir pantai.
Bentuk ubur-ubur yang menyerupai balon kecil berwarna biru bening kerap menarik perhatian anak-anak untuk memegangnya. Padahal, tentakel yang dimiliki biota tersebut dapat mengeluarkan racun yang menyebabkan rasa perih seperti terbakar, gatal-gatal, hingga iritasi kulit. "Pada kasus yang berat, sengatan bisa menyebabkan sesak napas bahkan pingsan sehingga perlu segera mendapatkan penanganan medis," jelas Marjono.
Sementara itu, Sekretaris SAR SRI Wilayah II Baron Surisdiyanto mengimbau wisatawan agar tidak menyentuh biota laut yang tidak dikenal, khususnya ubur-ubur berwarna biru yang banyak ditemukan di kawasan pantai saat musim kemunculannya. Ia meminta orang tua untuk selalu mengawasi aktivitas anak selama bermain di bibir pantai agar tidak memegang ubur-ubur yang terdampar.
"Kami menghimbau orang tua benar-benar memperhatikan anak-anak. Jangan sampai mereka menyentuh biota laut berbentuk bulat berwarna biru karena itu ubur-ubur yang bisa menyengat," katanya.
Surisdiyanto menambahkan, apabila wisatawan tersengat ubur-ubur dan lokasi kejadian jauh dari pos SAR, penanganan awal dapat dilakukan dengan membasuh bagian tubuh yang terkena sengatan menggunakan air tawar. Selanjutnya, tentakel yang masih menempel di kulit segera dibersihkan untuk mengurangi efek racun.
"Meski sudah dilakukan penanganan darurat, korban tetap disarankan datang ke pos SAR atau fasilitas kesehatan agar mendapat penanganan lebih lanjut," tandasnya. (bas/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita