GUNUNGKIDUL - Pemerintah Kalurahan (Pemkal) Kepek, Wonosari, Gunungkidul mengembangkan model ekonomi sirkular berbasis desa dengan mengintegrasikan sektor pertanian, perikanan, dan peternakan. Program yang telah berjalan dalam beberapa tahun terakhir ini, diarahkan untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Lurah Kepek Bambang Setiyawan mengatakan, pembangunan ekonomi menjadi fokus utama kalurahan dalam dua tahun terakhir. Berbagai program pemberdayaan masyarakat terus didorong agar warga memiliki peluang lebih besar untuk mengembangkan usaha produktif.
Menurutnya, pelatihan kemandirian ekonomi saja tidak cukup. Pemerintah kalurahan, kata dia, juga harus menyediakan sarana dan program yang mampu menggerakkan aktivitas ekonomi masyarakat secara nyata. “Kalurahan harus hadir memberikan fasilitas dan ruang bagi masyarakat untuk berkembang,” ujarnya Jumat (19/6).
Di tengah keterbatasan anggaran akibat penyesuaian dana desa, Kalurahan Kepek terus bertahan. Sebab, lanjut Bambang, pihaknya telah menerapkan pola pembangunan berbasis investasi jangka panjang. dana desa maupun dana keistimewaan (danais) dimanfaatkan untuk membangun sektor yang dapat memberikan manfaat ekonomi berkelanjutan.
Salah satu fokus utama adalah pemanfaatan tanah kas desa (TKD) untuk mendukung ketahanan pangan. Lahan tersebut digunakan untuk budi daya berbagai komoditas pertanian seperti bawang merah, cabai, dan aneka sayuran yang dikelola kelompok tani setempat.
Selain pertanian, pemkal juga mengembangkan sektor perikanan melalui kolaborasi pendanaan dana desa dan danais. Masing-masing dana untuk penyediaan sarana budi daya ikan dan pembangunan sumur bor sebagai sumber air.
Saat ini, terdapat sekitar 40 kolam terpal bundar yang digunakan untuk budi daya lele. Program tersebut telah beberapa kali memasuki masa panen dan hasilnya terus diputar kembali sebagai modal usaha. Sistem pengelolaan dilakukan secara berkelompok.
Program lain yang turut dikembangkan adalah budi daya kambing. Awalnya kegiatan tersebut hanya berfokus pada penggemukan ternak, namun kini telah berkembang hingga menghasilkan anakan kambing.
Baca Juga: PAD 2025 Gunungkidul Tembus 100,95 Persen, DPRD Minta Pemkab Tetap Optimalkan Aset Daerah
Kelompok peternak yang dibentuk masyarakat mengelola puluhan ekor kambing yang menjadi aset produktif kalurahan. Selain memberikan tambahan pendapatan bagi anggota kelompok, program tersebut juga mendukung sistem usaha terpadu yang dikembangkan pemerintah kalurahan. “Keunikannya justru program ini terletak pada keterhubungan antarsektor yang saling mendukung,” ungkapnya.
Dia pun mencontohkan air bekas kolam lele yang dimanfaatkan untuk menyiram tanaman dan rumput pakan ternak. Rumput tersebut kemudian digunakan sebagai pakan kambing. Sementara limbah kotoran ternak diolah menjadi pupuk organik untuk mendukung budi daya bawang merah dan tanaman pangan lainnya.
Dengan pola tersebut, hampir seluruh sumber daya yang dihasilkan dapat dimanfaatkan kembali sehingga menekan biaya produksi sekaligus meningkatkan efisiensi usaha masyarakat. “Siklusnya berputar dan saling mendukung,” jelasnya.
Baca Juga: 514 Taruna Akmil Kirab Pamitan di Magelang, Sarat Etika dan Nilai Sopan Santun Ketimuran
Bambang menilai, model ekonomi terpadu tersebut tidak hanya berdampak pada peningkatan produksi pangan. Tetapi juga menciptakan lapangan kerja serta sumber pendapatan baru bagi warga. Program-program tersebut dikelola oleh kelompok tani, kelompok perikanan, dan kelompok peternak yang ada di Kalurahan Kepek. Selain meningkatkan aktivitas ekonomi masyarakat, hasil usaha juga memberikan kontribusi terhadap pendapatan asli kalurahan.
“Yang terpenting bukan hanya hasil produksinya, tetapi bagaimana program ini mampu memberikan manfaat ekonomi langsung bagi keluarga-keluarga yang terlibat,” tandasnya. (bas/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita