GUNUNGKIDUL – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul mulai mewaspadai dampak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) terhadap operasional distribusi air bersih menjelang puncak musim kemarau. Kenaikan harga BBM berpotensi menambah beban biaya armada tangki air yang digunakan untuk melayani wilayah-wilayah rawan kekeringan.
Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul Purwono mengatakan, pihaknya telah menyiapkan opsi pengajuan belanja tidak terduga (BTT) jika anggaran reguler tidak mencukupi. Sebab kenaikan harga Pertamax berdampak langsung terhadap biaya operasional armada tangki air.
Baca Juga: Polres Kulon Progo Bekuk Pelaku Pemalsuan Sertifikat IELTS untuk Melamar Kerja di Luar Negeri
Menurutnya, BPBD saat ini masih memiliki anggaran reguler untuk mendukung kegiatan droping air sekitar Rp 460 juta. Ia mengaku, musim kemarau baru berlangsung, sehingga sampai saat ini belum ada agenda droping air secara masif.
Dia pun belum dapat menghitung secara rinci besaran tambahan biaya yang timbul akibat kenaikan harga BBM. Kendati demikian, Purwono memastikan pelayanan kepada masyarakat tetap menjadi prioritas utama. Apabila kebutuhan anggaran meningkat dan alokasi yang tersedia tidak mencukupi, pengajuan melalui pos BTT akan segera dilakukan.
“Memang sangat terasa dampaknya, tetapi nanti akan kami hitung. Pada prinsipnya ini layanan kepada masyarakat sehingga harus tetap berjalan,” ujarnya Rabu (24/6).
Baca Juga: Update Klasemen Peringkat Tiga Terbaik Piala Dunia 2026, Swedia Memimpin, Senegal Terbawah
Saat ini BPBD Gunungkidul mengoperasikan sejumlah armada untuk mendukung penanganan kebencanaan, terdiri atas empat truk tangki air, dua ambulans, satu mobil bak terbuka, dan enam unit mobil pemadam kebakaran. Khusus armada tangki air menggunakan BBM nonsubsidi, sedangkan ambulans dan mobil pemadam kebakaran masih menggunakan BBM subsidi. Sementara itu, Kepala Bidang Pencegahan, Kesiapsiagaan, Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Gunungkidul Nanang Irawanto mengungkapkan, alokasi kegiatan dropping air tahun ini mengalami penyesuaian akibat efisiensi anggaran.
Sementara itu, Kepala Bidang Pencegahan, Kesiapsiagaan, Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Gunungkidul Nanang Irawanto mengungkapkan, alokasi kegiatan droping air tahun ini mengalami penyesuaian akibat efisiensi anggaran. Jumlah droping yang semula direncanakan mencapai 1.500 rit turun menjadi 350 rit.
Penyesuaian tersebut dilakukan seiring efisiensi sejumlah pos anggaran, termasuk perjalanan dinas petugas. “Anggaran droping mengalami perubahan dari Rp 380,5 juta menjadi Rp 346,55 juta. Mungkin nanti juga bisa berubah karena naik turunnya harga BBM,” ungkapnya. (bas/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita