GUNUNGKIDUL - Program mina padi kembali digalakkan di Gunungkidul. Tahun ini, lahan persawahan seluas 10 hektare di Kapanewon Ponjong bakal dikembangkan menjadi kawasan budidaya padi dan ikan secara terpadu.
Untuk mendukung program tersebut, pemerintah pusat menggelontorkan bantuan sebesar Rp 1 miliar. Bantuan berasal dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dan akan diberikan kepada kelompok tani di Kalurahan Genjahan, Ponjong.
“Total bantuan yang diberikan mencapai Rp 1 miliar untuk pengembangan mina padi di lahan seluas 10 hektare. Artinya, setiap hektare mendapatkan dukungan sekitar Rp 100 juta,” ujar Kepala Bidang Perikanan Budidaya Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Gunungkidul Purnomo Sumardamto, Selasa (23/6).
Baca Juga: Sekprov DIY Ingatkan BUMD Tak Sekadar Kejar Laba, Juga Harus Perkuat Ekonomi dan Pembangunan Daerah
Bantuan tersebut tidak diberikan dalam bentuk uang tunai, melainkan sarana dan prasarana penunjang budidaya. Di antaranya pembangunan kolam dalam di area sawah, penyediaan benih ikan, pakan, mulsa, genset, hingga pembangunan menara pandang untuk pengawasan.
Selain itu, kelompok penerima juga akan memperoleh bantuan paranet sebagai perlindungan terhadap gangguan hama yang berpotensi menghambat keberhasilan budidaya. “Peruntukannya akan diarahkan ke sana untuk menunjang keberhasilan program,” jelasnya.
Ketersediaan air menjadi syarat utama dalam pengembangan mina padi. Sebab, lanjut dia, lahan sawah tidak hanya digunakan untuk menanam padi, tetapi juga menjadi tempat pemeliharaan ikan hingga masa panen. “Air harus tersedia dalam jumlah cukup,” ujarnya.
Program mina padi sebenarnya memiliki potensi dikembangkan di sejumlah wilayah Gunungkidul. Selain Ponjong, lanjut dia, budidaya serupa saat ini juga telah berjalan di Kalurahan Pulutan, Kapanewon Wonosari. Menurut dia, program tersebut sempat tidak mendapatkan dukungan bantuan dalam beberapa tahun terakhir.
Namun mulai 2026, pemerintah pusat kembali mengalokasikan bantuan untuk mendorong pengembangan mina padi di masyarakat. “Sempat terhenti dukungan dari pemerintah pusat, di tahun ini kembali digulirkan,” tandasnya.
Kepala DKP Gunungkidul M Johan Prasetyo mengatakan, konsep mina padi memberikan nilai tambah ekonomi bagi petani karena dalam satu hamparan lahan dapat menghasilkan dua komoditas sekaligus.
Baca Juga: Wali Murid Kesulitan Buat Akun SPMB, Pilih Datangi Posko Layanan di Sekolah
“Petani bisa panen padi dan pada saat yang sama mendapatkan hasil dari budidaya ikan. Di situlah nilai ekonominya,” katanya.
Kendati demikian, ia mengakui dalam pelaksanaan program tidak lepas dari berbagai tantangan. Selain memastikan pasokan air tetap tersedia sepanjang musim tanam, petani juga harus mewaspadai gangguan hama, terutama regul atau berang-berang yang kerap memangsa ikan di area persawahan.
“Ancaman hama berang-berang harus diantisipasi karena dapat memengaruhi produktivitas dan keberhasilan program. Karena itu pengawasan perlu dilakukan secara intensif,” jelasnya. (bas/pra)
Editor : Heru Pratomo