GUNUNGKIDUL - Sebanyak 91 anak asal Gunungkidul tercatat mendaftar program Sekolah Rakyat (SR) Tahun Ajaran 2026. Namun, seluruh peserta yang lolos nantinya masih harus menempuh pendidikan di luar daerah lantaran Kabupaten Gunungkidul belum memiliki fasilitas Sekolah Rakyat.
Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos P3A) Gunungkidul Suyono mengatakan, program pendidikan berasrama yang digagas pemerintah pusat tersebut ditujukan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu sebagai upaya memperluas akses pendidikan sekaligus memutus rantai kemiskinan antargenerasi.
“Pelaksanaan tahun 2026 merupakan gelombang kedua penerimaan peserta didik Sekolah Rakyat,” ujarnya saat ditemui Jumat (19/6).
Berbeda dengan sistem penerimaan sekolah pada umumnya, proses penjaringan peserta tidak dibuka secara umum. Ia menyebutkan, calon siswa harus berasal dari keluarga yang masuk kategori miskin dan tercatat dalam data tunggal sosial ekonomi nasional (DTSEN), khususnya kelompok desil satu dan dua. "Program ini memang diperuntukkan bagi keluarga yang masuk kategori paling rentan secara ekonomi," ujarnya Suyono.
Baca Juga: Anggaran BBM Menipis, Dinas Damkarmat Kota Jogja Ajukan Penambahan Rp 75 Juta di APBD Perubahan
Berdasarkan pemetaan data yang dilakukan pemerintah, terdapat sekitar 63.299 anak di Gunungkidul yang secara administratif memenuhi syarat untuk mengikuti program tersebut. Namun, tidak seluruhnya berminat mendaftar.
Menurut Suyono, keberadaan Sekolah Rakyat menjadi salah satu instrumen pemerintah untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia dari keluarga miskin melalui pendidikan yang terintegrasi. "Tujuan utamanya adalah memutus rantai kemiskinan melalui jalur pendidikan. Dengan sistem asrama, diharapkan anak-anak mendapatkan pendampingan pendidikan dan pembentukan karakter secara optimal," katanya.
Baca Juga: BRI Yogyakarta Salurkan KUR Rp10,3 Triliun, Tegaskan Plafon hingga Rp100 Juta tanpa Agunan
Sunyono menyebut proses pendaftaran saat ini telah selesai dilaksanakan. Selanjutnya, kata dia, pemerintah akan melakukan tahapan verifikasi dan seleksi sebelum mengumumkan peserta yang diterima pada 30 Juni mendatang.
Sementara itu, Ketua Tim Program Keluarga Harapan (PKH) Gunungkidul Risman Setyo Nugroho menjelaskan, berdasarkan data yang masuk melalui aplikasi Setara, jumlah calon siswa asal Gunungkidul yang mendaftar mencapai 91 orang. Minat peserta didominasi siswa tingkat menengah atas.
"Dari total 91 calon siswa, sebanyak 74 orang mendaftar untuk jenjang SMA dan 17 orang untuk jenjang SMP. Untuk tingkat SD tidak ada pendaftar," jelasnya.
Ia menambahkan, pola penerimaan tahun ini berbeda dibandingkan pelaksanaan pada 2025. Saat program pertama kali dijalankan, rekrutmen hanya dibuka untuk jenjang SMA. Sedangkan pada tahun ini cakupan penerimaan diperluas mulai dari tingkat SD hingga SMA. Kendati demikian, tingginya minat siswa Gunungkidul menunjukkan bahwa program tersebut mulai dikenal masyarakat. “Ini juga sebagai salah satu alternatif pendidikan bagi keluarga kurang mampu,” tandasnya. (bas/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita