GUNUNGKIDUL - Hilangnya Padukuhan Sari di Kalurahan Banjarejo, Kapanewon Tanjungsari, bukan terjadi karena bencana alam maupun konflik sosial. Padukuhan yang dahulu dihuni sekitar 30 hingga 35 kepala keluarga (KK) itu perlahan ditinggalkan warganya akibat program transmigrasi, minimnya regenerasi penduduk, hingga perpindahan warga ke wilayah lain yang lebih dekat dengan pusat aktivitas.
Lurah Banjarejo Dwi Haryanto mengatakan, Padukuhan Sari dulunya merupakan wilayah yang cukup ramai dan memiliki kepadatan penduduk yang tidak jauh berbeda dengan padukuhan lain di Banjarejo. "Memang dulu ada Padukuhan Sari. Jumlah penduduknya sekitar 30 sampai 35 KK, sama seperti padukuhan lain pada umumnya," ujarnya kepada wartawan, Kamis (18/6/2026).
Menurut Dwi, awal mula berkurangnya jumlah penduduk terjadi ketika pemerintah pusat menjalankan program transmigrasi pada dekade 1980-an. Sejumlah warga Padukuhan Sari mengikuti program itu dan berpindah ke Pulau Sumatera. Setelah itu, generasi muda yang tidak ikut transmigrasi banyak memilih merantau dan menetap di luar daerah. Kondisi tersebut menyebabkan jumlah penduduk terus menyusut dari waktu ke waktu. "Akhirnya yang tersisa hanya orang tua," katanya.
Baca Juga: PAW Lima Lurah Sleman Bisa Lawan Kotak Kosong, Maksimal Tiga Calon
Seiring berjalannya waktu, para orang tua yang masih bertahan di Padukuhan Sari meninggal dunia. Sementara generasi penerus tidak kembali untuk menetap, sehingga tidak terjadi regenerasi penduduk. Ia menegaskan, hilangnya Padukuhan Sari bukan disebabkan oleh keterisolasian wilayah. Akses jalan menuju kawasan tersebut sebenarnya cukup baik dan tidak berbeda jauh dengan wilayah lain.
"Jalannya bagus dan tidak terpencil. Jadi bukan karena akses. Lebih kepada perpindahan penduduk yang terjadi secara bertahap," ujarnya.
Selain transmigrasi, Dwi menilai program keluarga berencana (KB) yang berjalan pada masa itu juga ikut memengaruhi laju pertumbuhan penduduk sehingga jumlah warga semakin berkurang. Padukuhan Sari, kata dia, kemudian dihapus dari data administrasi kalurahan pada dekade 1990-an akhir setelah tidak lagi memiliki penduduk tetap.
Sejak saat itu, jumlah padukuhan di Kalurahan Banjarejo berkurang dari 21 menjadi 20 padukuhan. "Kalau tidak salah dihapus dari administrasi pada tahun 1990-an. Sekarang Banjarejo memiliki 20 padukuhan, padahal dulu ada 21," tambahnya.
Baca Juga: Kejari Musnahkan Ribuan Pil Sapi, Bupati Endah Sebut Penyalahgunaan Obat Terlarang Jadi Alarm Serius
Sementara itu, Bupati Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih mengungkapkan, berdasarkan laporan sementara yang ia terima terdapat dua padukuhan di Gunungkidul yang saat ini sudah tidak lagi berpenghuni. Temuan itu mencuat saat Pemkab Gunungkidul melakukan pendataan wilayah menjelang pelaksanaan pemilihan lurah di 31 kalurahan.
"Kami mendapatkan laporan bahwa ada dua padukuhan yang sudah tidak memiliki penduduk. Saat ini masih kami verifikasi melalui OPD terkait untuk memastikan kondisi di lapangan. Kami belum bisa menyebutkan padukuhan mana saja,” katanya.
Apabila hasil verifikasi telah selesai, jumlah padukuhan di Gunungkidul yang selama ini tercatat sebanyak 1.431 padukuhan berpotensi berkurang menjadi 1.429 padukuhan. Endah menilai, fenomena berkurangnya penduduk di sejumlah wilayah menjadi tantangan tersendiri bagi pembangunan daerah. Salah satu penyebabnya adalah tingginya angka urbanisasi dan perpindahan generasi muda ke luar daerah untuk mencari pekerjaan.
Karena itu, pemerintah daerah berupaya mendorong investasi dan membuka lebih banyak lapangan kerja agar generasi muda memiliki kesempatan bekerja dan membangun masa depan di kampung halaman sendiri. "Kami berharap anak-anak muda tidak terus menerus terurbanisasi. Pemerintah akan berupaya menghadirkan investasi dan membuka lapangan kerja agar putra-putri Gunungkidul bisa berkarya di daerah sendiri sekaligus tetap dekat dengan keluarga dan orang tua mereka," ujarnya.
Menurut Endah, keberadaan generasi muda di kampung halaman tidak hanya penting bagi pembangunan ekonomi, tetapi juga memiliki nilai sosial yang besar. Sebab, banyak orang tua yang akhirnya hidup sendiri ketika anak-anak mereka memilih menetap di luar daerah.
"Kami ingin pembangunan di Gunungkidul semakin berkembang, sehingga masyarakat memiliki alasan untuk tetap tinggal dan membangun daerahnya sendiri," tandas Endah. (bas/laz)
Editor : Herpri Kartun