Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Ditinggalkan Warga Satu Per Satu sejak 1980-an, Padukuhan Sari Kini Tinggal Nama di Peta Gunungkidul

Yusuf Bastiar • Kamis, 18 Juni 2026 | 19:41 WIB
TAK BERPENGHUNI: Bangunan bekas rumah di tengah lahan pertemuan. Dukuh Sangen I Suparno menunjukkan lokasi keberadaan Padukuhan Sari yang kini telah ditinggalkan warganya. (Foto: Yusuf Bastiar/Radar Jogja)
TAK BERPENGHUNI: Bangunan bekas rumah di tengah lahan pertemuan. Dukuh Sangen I Suparno menunjukkan lokasi keberadaan Padukuhan Sari yang kini telah ditinggalkan warganya. (Foto: Yusuf Bastiar/Radar Jogja)

Gunungkidul - Di balik perbukitan karst Gunungkidul, tersimpan kisah sebuah padukuhan yang perlahan menghilang dari kehidupan sosial masyarakat.

Padukuhan Sari yang dahulu berada di wilayah Kalurahan Banjarejo, Kapanewon Tanjungsari, kini hanya tinggal nama dalam ingatan para mantan penghuninya. 

Tidak ada bencana besar, konflik sosial, maupun program relokasi yang menyebabkan padukuhan tersebut kosong.

Warga meninggalkan kampung itu secara perlahan, satu per satu, hingga akhirnya tidak lagi berpenghuni.

Baca Juga: PSS Sleman Dikabarkan Kepencut Dua Pemain Potensial Pedro Matos dan Muhammad Ragil 

Anak kandung almarhum Dukuh Sari Trifena Istining, 56, menjadi salah satu saksi hidup perjalanan padukuhan yang kini telah hilang itu.

Ia lahir dan besar di Padukuhan Sari, sebelum akhirnya ikut pindah bersama orang tuanya. 

"Dulu warga di Padukuhan Sari cukup banyak, kurang lebih sekitar 30 kepala keluarga.

Pindahnya tidak serentak, tetapi satu per satu," ujarnya saat ditemui di rumahnya yang berada di Padukuhan Padangan, Kamis (18/6/2026).

Menurut Trifena, kehidupan masyarakat saat itu tidak berbeda dengan padukuhan lain di Gunungkidul.

Baca Juga: PSIM Jogja Dikabarkan Bekerjasama dengan Adidas 

Warga hidup dari sektor pertanian dan tetap menjalankan berbagai aktivitas kemasyarakatan seperti ronda malam, kegiatan RT, hingga gotong royong.

Namun, kenang dia, memasuki dekade 1990-an, jumlah penduduk mulai berkurang. 

Warga secara bertahap memilih meninggalkan kampung dan menetap di wilayah lain yang masih berada di sekitar Kalurahan Banjarejo.

Trifena mengaku tidak mengetahui secara pasti alasan warga memilih pindah. Sebab, proses perpindahan berlangsung perlahan dalam rentang waktu cukup panjang.

"Saya sendiri tidak pernah tahu alasan pastinya. Yang jelas warga pindah satu per satu. Sebagian besar masih tinggal di sekitar kalurahan ini juga," tuturnya.

Ia menjadi salah satu penghuni terakhir yang meninggalkan Padukuhan Sari.

Baca Juga: Usung Pesan Terima Petugas, Isi Data, Rahasia Terjaga: Sensus Ekonomi 2026 Sasar 606 Ribu Usaha di DIY hingga 31 Agustus

Saat dirinya pindah sekitar 2009, jumlah keluarga yang masih bertahan hanya tersisa tiga kepala keluarga. Keputusan keluarganya meninggalkan Padukuhan Sari lebih banyak dipengaruhi faktor usia orang tua dan kebutuhan akses yang lebih mudah terhadap lingkungan sekitar. 

Trifena mengenang, hingga akhir masa hunian, wilayah tersebut belum menikmati jaringan listrik.

Meski demikian, jalan lingkungan saat itu sudah cukup baik dengan konstruksi cor blok. "Sampai akhir 90-an masih belum ada listrik. Jalan sebenarnya sudah bagus, tetapi memang lokasinya cukup terpencil," ujarnya.

Kini, bekas permukiman Padukuhan Sari masih dapat dikenali dari sisa-sisa bangunan rumah yang ditinggalkan.

Sebagian besar lahan telah berubah menjadi area pertanian yang digarap warga. Hak itu ditunjukkan oleh Dukuh Sangen I Suparno yang juga masih mengingat keberadaan Padukuhan Sari. 

Saat mulai menjabat pada masa krisis ekonomi 1998, padukuhan itu masih tercatat aktif meski jumlah penduduknya tinggal sedikit.

"Kalau tidak salah waktu itu tinggal tiga atau empat rumah saja. Saya masih sempat mengenal dukuhnya sebelum beliau purna tugas," katanya.

Menurut Suparno, aktivitas masyarakat saat itu berjalan normal seperti masyarakat pedesaan pada umumnya.

Baca Juga: Pemkab Magelang Dorong Uji Tera Pertashop untuk Lindungi Konsumen dari Takaran BBM Tak Akurat

 Sebagian besar bekerja sebagai petani dan mengelola lahan pertanian di sekitar kawasan tersebut.

Namun ia juga tidak mengetahui secara pasti penyebab utama warga meninggalkan padukuhan tersebut.

Yang diingatnya, proses pengosongan berlangsung bertahap sejak pertengahan 1990-an hingga akhirnya tidak lagi berpenghuni sekitar 1998 secara administratif.

"Mulai ditinggalkan sekitar 1995 sampai 1998. Warganya berkurang sedikit demi sedikit. Tidak sekaligus.

Setelah itu, akhirnya habis dan secara administratif sudah tidak tercatat lagi,"  tandasnya. (bas/laz)

Editor : Herpri Kartun
#Padangan #Gunungkidul #Tanjungsari #Banjarejo #transmigrasi