GUNUNGKIDUL – Kenaikan harga Pertamax menjadi Rp 16.250 per liter mulai membebani operasional 400 jeep wisata di kawasan pantai selatan Gunungkidul. Pelaku usaha mengaku terjepit karena biaya bahan bakar naik, sementara tarif wisata belum bisa disesuaikan demi menjaga minat wisatawan.
Anggota Jeep Wisata Pantai Drini Suyanto mengaku, belum berani menaikkan tarif karena khawatir memicu penurunan minat wisatawan. Di sisi lain, kenaikan harga Pertamax memberikan dampak langsung terhadap usaha yang dijalankannya.
Apalagi, hingga kini belum tersedia stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di kawasan wisata selatan Gunungkidul.
"Operasional sangat terpengaruh. Selain harga Pertamax naik, kami juga kesulitan mendapatkan BBM karena SPBU terdekat jaraknya sekitar 20 kilometer dari kawasan wisata," katanya kepada wartawan, Minggu (14/6/2026).
Dia menjelaskan, selama ini para pengemudi lebih banyak mengandalkan Pertashop yang berada di Jalan Jalur Lintas Selatan (JJLS). Namun, keberadaan fasilitas tersebut belum mampu menjawab seluruh kebutuhan armada jeep wisata yang jumlahnya mencapai ratusan unit.
Dalam kondisi normal, satu unit jeep wisata membutuhkan sekitar 15 hingga 20 liter BBM per hari. Saat kunjungan wisatawan meningkat, konsumsi bisa melonjak hingga 25 liter per hari. “Ya bisa sampai segitu,” ujarnya.
Dia menyebut, sebelum harga Pertamax naik, banyak wisatawan telah melakukan pemesanan dengan tarif Rp 350 ribu untuk perjalanan pulang-pergi sejauh kurang lebih 15 kilometer. Karena kenaikan harga terjadi tanpa informasi jauh hari sebelumnya, tarif yang sudah disepakati tidak dapat diubah.
Ia mengakui para pengemudi sebenarnya mempertimbangkan penyesuaian tarif. Namun dinilai berisiko terhadap keberlangsungan usaha.
"Pesanan sudah masuk dengan harga lama, jadi selisih biaya operasional harus kami tanggung sendiri. Kami juga dilema. Kalau tarif ikut naik, takutnya wisatawan justru berkurang," tandasnya.
Kondisi tersebut dinilai menjadi sinyal bahwa kebijakan harga BBM tidak hanya berdampak pada sektor transportasi, tetapi juga merembet ke sektor pendukung pariwisata yang berkembang pesat di kawasan selatan Gunungkidul.
Ia berharap pemerintah dapat menghadirkan solusi, terutama terkait penyediaan SPBU di kawasan wisata selatan agar akses terhadap BBM lebih mudah dan biaya operasional dapat ditekan.
Terpisah, Kepala Dinas Perdagangan dan Tenaga Kerja Gunungkidul Kelik Yuniantoro mengakui, kenaikan harga BBM berimbas terhadap berbagai sektor usaha yang menjadikan Pertamax sebagai bagian dari biaya produksi.
"Problem-nya kenaikan harga BBM imbasnya ke sektor pekerjaan, baik secara langsung maupun tidak langsung, yang menggunakan BBM jenis Pertamax sebagai salah satu modal produksinya," jelasnya.
Meski demikian, Kelik memastikan pasokan BBM di Kabupaten Gunungkidul dalam kondisi aman. Baik Pertalite maupun Pertamax, tidak mengalami kelangkaan. "Secara pasokan atau stok, BBM di Gunungkidul sejauh ini kami pastikan aman. Kami sudah mendapatkan jatah tahunan dan itu sangat mencukupi. Tidak ada kelangkaan," tambahnya. (bas/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita