GUNUNGKIDUL - Kenaikan harga Pertamax Rabu (10/6/2026), membuat konsumen di Gunungkidul mulai mengerem pembelian BBM nonsubsidi. Dampaknya, penjualan di salah satu Pertashop turun hingga 60 persen, meski konsumsi Pertamax di SPBU reguler masih terpantau stabil.
Pemilik Pertashop di Kalurahan Jetis, Kapanewon Saptosari Mahmud mengatakan, penurunan pembelian Pertamax mulai dirasakan sejak hari pertama penyesuaian harga. Konsumen yang sebelumnya rutin mengisi penuh tangki kini memilih mengurangi volume pembelian. Bahkan tidak sedikit yang mengurungkan niat membeli.
“Itu sejak harga Pertamax naik memang langsung terasa dampaknya," katanya saat dihubungi melalui sambungan telepon, Kamis (11/6/2026).
Dia menjelaskan, selisih harga yang semakin jauh dengan BBM bersubsidi menjadi salah satu alasan masyarakat menahan pembelian. Meski demikian, kondisi di Pertashop miliknya masih sedikit tertolong karena lokasinya berada di Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS) yang menjadi akses wisata.
"Pembeli memilih mengurangi pembelian. Ada juga yang batal membeli karena beda harganya cukup jauh dibandingkan yang subsidi. Padahal harga Pertamax di Pertashop lebih murah dibandingkan SPBU," jelasnya.
Di Pertashop miliknya, Pertamax dijual Rp 16.200 per liter atau lebih murah Rp 50 dibandingkan harga di SPBU yang mencapai Rp 16.250 per liter. Sebelum terjadi kenaikan harga, rata-rata penjualan Pertamax mencapai sekitar 2.000 liter per hari selama satu bulan terakhir ini yang dibeli warga maupun wisatawan.
Baca Juga: Awalnya Sempat Diserbu Warga, KKMP Wates Magelang Kini Berangsur Sepi karena Stok Belum Lengkap
“Kami diuntungkan karena berada di jalur wisata. Masih tertolong karena di sekitar sini tidak banyak pengecer, jadi masih ada yang beli meskipun tidak sebanyak biasanya," ujarnya.
Berbeda dengan kondisi di Pertashop, Pengelola SPBU Baleharjo Budiyana mengaku, belum melihat adanya perubahan signifikan terhadap konsumsi BBM, baik Pertamax maupun Pertalite. Masyarakat sudah cukup familiar dengan pola kenaikan dan penurunan harga BBM nonsubsidi sehingga tidak lagi bereaksi berlebihan.
"Adanya kenaikan Pertamax sampai hari kedua tidak ada lonjakan apa-apa. Masyarakat sudah tahu dan sudah terbiasa dengan keadaan seperti ini," sambung dia.
Dia memastikan tidak terjadi antrean panjang maupun aksi penimbunan BBM bersubsidi. Penjualan Pertalite juga terpantau normal. Konsumsi Pertamax di SPBU Baleharjo rata-rata berkisar antara 500 hingga lebih dari 1.000 liter per hari. Hingga hari kedua pascakenaikan harga, angka tersebut belum menunjukkan perubahan berarti.
Baca Juga: PT KAI Daop 6 Gunakan Peta Perencanaan Richtingskaart, Warga Blondo Sebut Tanah Negara
"Kemarin dan hari ini sama saja. Konsumen Pertamax memang sudah terbiasa memakai BBM itu. Kalau kemudian pindah ke Pertalite, biasanya ada yang khawatir performa kendaraannya bermasalah. Jadi belum berpengaruh terhadap daya beli Pertamax," ucapnya.
Dia menambahkan, respons masyarakat terhadap kenaikan BBM nonsubsidi berbeda dengan BBM bersubsidi. Jika harga BBM subsidi mengalami kenaikan, masyarakat cenderung bereaksi cepat dengan meningkatkan pembelian. Namun untuk Pertamax, fluktuasi harga dinilai sudah menjadi hal yang lumrah.
"Kalau yang subsidi naik memang langsung diburu. Tapi kalau nonsubsidi ini kan memang sering naik turun, jadi masyarakat sudah hafal," imbuhnya. (bas/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita