Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Wabup Gunungkidul Usulkan N Level 1 Biosaka Tekan Bau TPA Wukirsari, DLH: Efektivitas Perlu Dikaji

Yusuf Bastiar • Selasa, 9 Juni 2026 | 19:15 WIB
MENGGUNUNG: Kondisi tumpukan sampah di TPA Wukirsari yang dikelola oleh DLH Gunungkidul. (Yusuf Bastiar/Radar Jogja)
MENGGUNUNG: Kondisi tumpukan sampah di TPA Wukirsari yang dikelola oleh DLH Gunungkidul. (Yusuf Bastiar/Radar Jogja)

GUNUNGKIDUL - Keluhan warga terkait bau menyengat yang berasal dari Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Wukirsari di Kalurahan Baleharjo, Wonosari mendapat perhatian Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gunungkidul. Sebagai salah satu solusi, Wakil Bupati Gunungkidul Joko Parwoto mengusulkan pemanfaatan N Level 1 Biosaka untuk atasi bau sampah yang setiap harinya mencapai 52,36 ton.

Menurut Joko, N Level 1 Biosaka memiliki kemampuan menetralisir aroma tidak sedap dengan biaya yang relatif terjangkau. Sehingga berpotensi diterapkan dalam pengelolaan sampah di TPA Wukirsari. Penggunaan teknologi tersebut tidak ditujukan sebagai solusi jangka pendek. Pemkab berencana mengembangkan sebagai bagian dari pengelolaan sampah berkelanjutan di Gunungkidul.

“Tidak hanya sementara ini akan dikembangkan menjadi solusi berkelanjutan,” tegasnya Selasa (9/6).

Baca Juga:   PHRI DIY Usulkan Tambah Armada Shuttle Wisata demi Jaga Minat Wisatawan Berkunjung dan Menginap di Jogja   

Untuk mendukung implementasi program tersebut, ia berencana memberikan pelatihan dan pendampingan kepada personel Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Gunungkidul. Harapannya, petugas dapat mengoperasikan dan menerapkan teknologi tersebut secara mandiri tanpa bergantung kepada pihak luar. 

Sementara itu, Kepala UPT Kebersihan dan Pertamanan DLH Gunungkidul Heri Kuswantoro mengakui pihaknya telah menerima sejumlah laporan dari warga terkait bau yang berasal dari TPA Wukirsari.

“Kami menerima laporan langsung dari warga yang datang ke kantor UPT maupun laporan yang disampaikan ke DLH,” ujarnya.

Baca Juga: Polisi Tangkap Makelar Pelarian Geng Vozter ke Safe House Cilacap, Ternyata Alumni dan Residivis Kasus Klitih 

Menurut Heri, saat ini pihaknya telah melakukan sejumlah langkah untuk mengurangi dampak bau. Salah satunya dengan menimbun tumpukan sampah menggunakan tanah guna mengurangi pelepasan gas metana ke udara. 

Selain itu, lanjut Heri, petugas juga diminta melakukan penataan sampah setiap hari agar tidak terjadi penumpukan yang berlebihan. Sampah yang baru masuk harus segera dirapikan dan dimaksimalkan kapasitasnya. Sehingga proses pembusukan tidak menimbulkan bau yang menyebar ke lingkungan sekitar.

“Setidaknya cara ini dapat menekan gas metana yang keluar secara langsung,” katanya.

 

Heri menjelaskan, salah satu hal yang dihindari petugas adalah membongkar tumpukan sampah lama untuk penataan ulang. Sebab, langkah tersebut berpotensi melepaskan gas metana dalam jumlah besar yang dapat memicu bau menyengat. 

Dia menambahkan, radius penyebaran bau sangat dipengaruhi kondisi cuaca dan arah angin. Dalam kondisi tertentu, aroma tidak sedap dapat tercium hingga radius sekitar satu kilometer dari lokasi TPA. “Tergantung cuacanya seperti apa,” katanya.

Terkait usulan penggunaan N Level 1 Biosaka, Heri menilai teknologi tersebut masih perlu dikaji lebih lanjut sebelum diterapkan secara luas. Menurutnya, efektivitas penggunaan larutan tersebut harus dibuktikan melalui uji coba lapangan mengingat volume sampah yang masuk ke TPA Wukirsari cukup besar.

“Dengan sampah masuk 52,36 ton setiap hari, perlu ada eksperimen mengenai kebutuhan volume larutan dan hasil yang diperoleh,” lontarnya. (bas/eno)

 

Editor : Sevtia Eka Novarita
#Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Wukirsari #Biosaka #bau sampah #Sampah #TPA Wukirsari