Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Musim Kemarau, Peternak Gunungkidul Diminta Waspadai Serangan Hewan Liar

Yusuf Bastiar • Senin, 8 Juni 2026 | 21:30 WIB
PUNCAK KEMARAU: Siluet bocah bermain saat cuaca cerah di wilayah Kapanewon Mlati, Sleman, kemarin (10/7).
PUNCAK KEMARAU: Siluet bocah bermain saat cuaca cerah di wilayah Kapanewon Mlati, Sleman, kemarin (10/7).
 
GUNUNGKIDUL - Memasuki musim kemarau, peternak di wilayah selatan Gunungkidul diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi serangan hewan liar yang mengincar ternak. Meski dalam dua tahun terakhir kasus kematian kambing akibat serangan hewan misterius nyaris tidak terdengar, ancaman tersebut dinilai masih berpotensi terjadi, terutama pada ternak yang dipelihara jauh dari permukiman.
 
Ulu-Ulu Kalurahan Purwodadi, Tepus Suroyo mengatakan, sebagian besar warga Kalurahan Purwodadi masih memelihara ternak di ladang maupun area hutan. Pola tersebut, kata dis, sudah berlangsung lama karena dinilai memudahkan peternak dalam mencari dan menyediakan pakan ternak.
 
Baca Juga: Di Kota Magelang TKA Jadi Penentu SPMB SMP, Bobotnya 60 Persen Bisa Ubah Peta Persaingan
 
Kendati demikian, hal tersebut juga memiliki risiko keselamatan hewan ternak. Salah satunya, lanjut Suryo, pengawasan menjadi berkurang saat malam hari, sehingga rawan menjadi korban serangan hewan liar. Ia memastikan serangan hewan liar kerap terjadi saat musim kemarau berlangsung.
 
“Kejadian terakhir dua tahun lalu ada hewan ternak yang diserang hewan liar di kandang yang deket ladang atau area hutan,” ujarnnya saat dihubungi melalui sambungan telepon, Senin (8/6).
 
Baca Juga: Robin Van Persie Didepak dari Feyenoord, Keputusan Kontroversi dan Perselisihan Menjadi Alasan Utama?
 
Menurut Suroyo, selama dua tahun terakhir tidak ada laporan kambing mati akibat serangan hewan misterius di wilayahnya. Kendati demikian, pihaknya tetap memberikan himbauan kepada warga untuk memindahkan kandang ternak lebih dekat ke permukiman selama musim kemarau berlangsung. Ia menilai, langkah tersebut menjadi cara paling efektif untuk meminimalkan risiko serangan hewan liar.
 
“Kalau kandang tidak mau dipindah ke dekat rumah, harus diperkuat pagarnya agar tidak mudah ditembus,” jelasnya.
 
Sementara itu, Lurah Giripurwo Kapanewon Purwosari Supriyadi mengungkapkan, wilayahnya justru masih menerima laporan serangan hewan liar terhadap ternak warga. Berdasarkan pengalaman tahun-tahun sebelumnya, serangan paling sering terjadi pada puncak musim kemarau, terutama sekitar Juli hingga Agustus.
 
“Makanya harus diantisipasi agar ternak yang dipelihara tidak menjadi korban,” ujarnya.
 
Baca Juga: Jeje Ungkap Persija Jakarta Sudah Dapatkan Mariano Peralta: Coach Shin Cocok
 
Ia menyebut, laporan terakhir serangan hewan liar diterima sekitar dua bulan lalu. Dalam kejadian tersebut, seekor kambing milik warga yang dipelihara di ladang ditemukan mati setelah diduga diserang predator. Ia mengaku, di wilayah Giripurwo kejadian serupa terus berulang tiap tahunnya. “Di tempat kami justru hampir setiap tahun ada laporan serangan hewan liar terhadap ternak warga yang dipelihara di ladang,” katanya.
 
Atas kondisi tersebut, pemerintah kalurahan terus mengingatkan para peternak untuk memperkuat kandang serta meningkatkan pengawasan terhadap ternak yang dipelihara. Langkah antisipasi dinilai penting agar kasus serangan hewan liar tidak kembali menimbulkan kerugian bagi masyarakat selama musim kemarau berlangsung. “Dari kejadian itu kami meminta para petani meningkatkan kewaspadaan agar ternak yang dimiliki tidak menjadi korban serangan,” pungkasnya. (bas)
 
Editor : Sevtia Eka Novarita
#hewan liar #kemarau #Gunungkidul #ancaman #peternak