GUNUNGKIDUL - Dinas Pendidikan (Disdik) Gunungkidul tengah mematangkan rencana penggabungan atau regrouping sembilan sekolah dasar (SD) negeri. Kebijakan itu disiapkan menyusul minimnya jumlah peserta didik di sejumlah sekolah. Bahkan ada satu SD yang total siswanya hanya 25 anak dari kelas I hingga kelas VI.
Kepala Disdik Gunungkidul Nunuk Setyowati mengatakan, hingga saat ini belum ada sekolah yang resmi digabungkan. Namun, proses penjajakan dan kajian telah dilakukan terhadap sejumlah sekolah yang dinilai memenuhi kriteria untuk dilakukan regrouping.
Baca Juga: Bedah Rumah di DIY Naik dari Ratusan ke Ribuan Unit, HB X: Kebutuhan Hunian Layak Masih Tinggi
“Ada sembilan sekolah dasar yang akan digabungkan, tetapi saat ini masih dalam tahap kajian,” tegasnya kepada wartawan Jumat (5/6).
Menurut Nunuk, pihaknya sengaja belum mengumumkan nama sekolah yang masuk dalam rencana penggabungan. Langkah itu dilakukan untuk menghindari munculnya kekhawatiran di tengah masyarakat sebelum keputusan final ditetapkan.
Dia menjelaskan, penggabungan sekolah tidak semata-mata didasarkan pada sedikitnya jumlah siswa. Dinas telah melakukan kajian terhadap perkembangan jumlah peserta didik dalam lima tahun terakhir sebelum mengambil langkah tersebut.
“Kalau tidak digabung kasihan guru karena tidak mendapatkan tunjangan profesi. Muridnya sedikit, tetapi tidak serta-merta langsung digabung. Semua sudah kami kaji lima tahun ke belakang,” jelasnya.
Nunuk menyebut, terdapat sekolah yang hanya memiliki total 25 siswa untuk enam jenjang kelas. Bahkan, lanjut dia, dalam satu tingkat hanya terdapat satu hingga dua siswa. Kondisi tersebut dinilai kurang ideal bagi proses pembelajaran maupun perkembangan sosial peserta didik. “Ini juga berpengaruh terhadap tumbuh kembang pendidikan anak. Kami mempertimbangkan pembelajaran bisa berjalan,” sebutnya.
Selain aspek akademik, regrouping juga mempertimbangkan kesejahteraan guru. Menurut Nunuk, jumlah peserta didik berpengaruh terhadap pemenuhan syarat penerimaan tunjangan profesi guru. Karena itu, banyak guru yang justru mendukung rencana penggabungan sekolah tersebut.
Kendati digabung, Nunuk memastikan tidak akan ada pengurangan tenaga pendidik. Seluruh guru, kata dia, tetap akan diberdayakan mengingat kebutuhan guru di Gunungkidul masih cukup tinggi.
“Di Gunungkidul justru masih kekurangan guru. Respons para guru juga senang karena keinginan ini sebenarnya sudah muncul sejak lama,” jelasnya.
Nunuk memastikan, sekolah yang akan digabungkan berada dalam wilayah yang berdekatan sehingga tidak akan memberatkan siswa. Bahkan sebagian besar masih berada dalam satu kalurahan.
Sementara itu, Panewu Tanjungsari Sri Intiyastuti membenarkan terdapat sejumlah sekolah di wilayahnya yang masuk dalam pembahasan regrouping. Namun, pihak kapanewon tidak terlibat dalam pengambilan keputusan dan hanya menerima laporan proses yang berjalan.
“Prosesnya melalui musyawarah antara warga, wali murid, kalurahan, pihak sekolah dan dinas pendidikan,” katanya.
Menurut Sri, pendekatan kepada masyarakat menjadi bagian penting dalam proses tersebut. Melalui forum musyawarah, pemerintah berupaya mendengar aspirasi warga sekaligus mencari solusi terbaik bagi keberlangsungan pendidikan di wilayah setempat. “Kami juga tidak tahu kapan pelaksanaan penggabungan SD akan diterapkan,” lontarnya. (bas/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita