GUNUNGKIDUL – Kenaikan biaya distribusi membuat kapasitas bantuan air bersih yang dianggarkan kapanewon di Gunungkidul turun. Salah satu kapanewon yang telah menyiapkan anggaran adalah Kapanewon Patuk. Panewu Patuk Baryono mengatakan alokasi anggaran droping air bersih tahun ini mencapai Rp 40,5 juta.
Namun, kata dia, kenaikan biaya distribusi menyebabkan kapasitas bantuan yang dapat disalurkan menurun dibanding tahun lalu. Pada 2025 dengan anggaran Rp 40 juta dan biaya distribusi Rp 200 ribu per tangki, pihaknya mampu menyediakan sekitar 200 tangki air bersih.
Sementara tahun ini biaya distribusi meningkat menjadi Rp 300 ribu per tangki sehingga hanya mampu menyediakan sekitar 135 tangki. "Anggarannya sama, tetapi karena biaya distribusi naik, jumlah tangki yang bisa kami siapkan berkurang," kata Baryono, Kamis (4/6).
Ia melanjutkan, kapasitas bantuan air bersih di Kapanewon Patuk turun sekitar 32,5 persen atau berkurang 65 tangki dibanding tahun sebelumnya. Menurut dia, wilayah yang berpotensi terdampak kekeringan meliputi Kalurahan Semoyo, Terbah, Ngoro-oro, Patuk, Nglanggeran, dan Pengkok. Meski hingga kini belum ada permintaan bantuan dari pemerintah kalurahan, anggaran tetap disiapkan sebagai langkah antisipasi.
Kepala Jawatan Sosial Kapanewon Panggang Sri Muryani mengatakan, juga telah melakukan pemetaan wilayah rawan kekeringan bersama pemerintah kalurahan. Kapanewon Panggang menyiapkan anggaran sekitar Rp 79 juta untuk program droping air bersih tahun ini. Dengan anggaran tersebut, ditargetkan dapat menyalurkan sebanyak 329 tangki air kepada masyarakat.
Distribusi air bersih, lanjut Sri Mulyani, direncanakan mulai dilakukan pada Agustus mendatang dengan menyesuaikan kondisi di lapangan dan kebutuhan masyarakat tiap kalurahan. "Kami tetap melihat kebutuhan masyarakat di tiap kalurahan," jelasnya.
Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul Purwono, keberadaan anggaran di tingkat kapanewon diharapkan mampu mempercepat penanganan kebutuhan air bersih karena bantuan dapat langsung disalurkan tanpa harus menunggu proses pengajuan ke tingkat kabupaten. “Sebagai langkah mitigasi cadangan bantuan BPBD tetap tersedia apabila musim kemarau berlangsung lebih panjang dari perkiraan,” ujarnya.
Ia menyebut, musim kemarau 2026 berlangsung lebih panjang dan kering dengan puncaknya di Juli hingga Agustus. "Sampai sekarang belum ada permintaan droping air ke BPBD Gunungkidul," jelasnya.
Menurut Purwono, sebanyak 12 dari 18 kapanewon di Gunungkidul telah mengalokasikan anggaran khusus untuk distribusi air bersih. Kapanewon tersebut meliputi Purwosari, Panggang, Paliyan, Tanjungsari, Tepus, Girisubo, Rongkop, Ponjong, Semanu, Patuk, Gedangsari, dan Nglipar.
Dengan skema baru tersebut, bantuan air bersih akan lebih dahulu menggunakan anggaran yang tersedia di tingkat kapanewon. Apabila kebutuhan meningkat dan anggaran lokal tidak mencukupi, BPBD akan memberikan dukungan melalui cadangan bantuan yang telah disiapkan. (bas/pra)
Editor : Heru Pratomo