Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Cabai Merah Besar Naik Rp 15 Ribu per Kilogram, Dipicu Rasulan dan Hajatan Jelang Idul Adha

Yusuf Bastiar • Rabu, 27 Mei 2026 | 09:10 WIB
WASPADA KENAIKAN: Pedagang menjual cabai di Pasar Beringharjo, Kota Jogja, Senin (4/5/2026). Menjelang Idul Adha, BPS memprediksi inflasi tidak sekuat Idul Fitri dan permintaan diperkirakan naik terbatas pada bumbu dapur. GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA
WASPADA KENAIKAN: Pedagang menjual cabai di Pasar Beringharjo, Kota Jogja, Senin (4/5/2026). Menjelang Idul Adha, BPS memprediksi inflasi tidak sekuat Idul Fitri dan permintaan diperkirakan naik terbatas pada bumbu dapur. GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA
 
 
GUNUNGKIDUL - Harga cabai merah besar di pasar tradisional Gunungkidul kembali merangkak naik menjelang Iduladha 2026. Harga cabai merah besar kini mencapai Rp 60 ribu per kilogram atau naik Rp 15 ribu dibanding pekan sebelumnya.
 
Kenaikan harga dipicu meningkatnya permintaan masyarakat menjelang Iduladha yang berbarengan dengan musim hajatan dan tradisi rasulan di wilayah Bumi Handayani.
 
Kepala Bidang Perdagangan Disdagnaker Gunungkidul Ris Heryani mengatakan, harga cabai merah besar sebelumnya sempat menyentuh Rp 90 ribu per kilogram sebelum turun hingga Rp 45 ribu dan kini kembali naik.
 
Baca Juga: Berkendara Sambil Bawa Celurit, Dua Pelajar Anggota GB Mistery-Allstar Kebumen Diamankan Polisi
 
Menurut dia, kenaikan dipengaruhi tingginya kebutuhan masyarakat menjelang Iduladha. Selain itu, banyaknya hajatan pernikahan dan kegiatan adat rasulan ikut mendongkrak konsumsi cabai di pasaran.
 
“Permintaan barang memang naik menjelang Iduladha. Di Gunungkidul juga sedang banyak hajatan dan rasulan,” ujarnya saat dihubungi, Selasa (26/5/2026).
 
Meski harga naik, Ris memastikan stok cabai masih aman. Pasokan cabai merah besar sebagian besar masih didatangkan dari luar daerah seperti Kulon Progo dan Magelang karena petani lokal Gunungkidul belum memasuki masa panen.
 
Baca Juga: Umat Buddha Belajar Melepas Kelekatan untuk Diberikan kepada Bhikkhu Thudong lewat Pindapata di Malioboro
 
Selain cabai merah besar, sejumlah komoditas kebutuhan pokok juga mengalami fluktuasi harga. Cabai rawit merah tercatat turun Rp 10 ribu menjadi Rp 70 ribu per kilogram, sedangkan cabai rawit hijau turun Rp 5 ribu menjadi Rp 45 ribu per kilogram.
 
“Kalau cabai masih banyak dari luar daerah karena petani Gunungkidul belum panen,” jelasnya.
 
Selian itu, harga bawang merah naik Rp 5 ribu menjadi Rp 50 ribu per kilogram. Sementara kedelai impor naik Rp 1.000 menjadi Rp 14 ribu per kilogram. Untuk komoditas lain relatif stabil. Bawang putih honan turun Rp 2 ribu menjadi Rp 26 ribu per kilogram.
 
Baca Juga: Refleksi Dua Dekade Gempa Jogja, Ahli Geologi UPN Soroti Risiko Tata Ruang dan Bangunan Rentan
 
 Sedangkan bawang bombai bertahan di angka Rp 35 ribu per kilogram, jagung pipilan kering Rp 8 ribu, kacang tanah kupas Rp 35 ribu, dan tepung terigu curah Rp 9.500 per kilogram.
 
Di kelompok bahan pangan lain, harga daging ayam masih stabil di angka Rp 35 ribu per kilogram, daging sapi Rp 145 ribu per kilogram, garam halus Rp 13 ribu, gula pasir curah Rp 17 ribu, serta minyak goreng premium dan minyak goreng curah masing-masing Rp 22 ribu per liter. Sementara itu, harga telur ayam ras saat ini berada di angka Rp 26 ribu per kilogram atau naik Rp 1.500 dibanding sebelumnya.
 
“Telur sempat turun ke Rp 24 ribu, sekarang naik lagi ke Rp 26 ribu tapi masih wajar,” ungkapnya.
 
Baca Juga: Sunarto, Tertimbun Reruntuhan hingga Lumpuh  karena Gempa Dahsyat Bantul 2006; Bangkit dan Berkarya, Kini Aktif di Organisasi Kebencanaan
 
Di sisi lain, Kepala Disdagnaker Gunungkidul Kelik Yuniantoro melihat potensi kenaikan harga minyak goreng. Guna menjaga stabilitas harga, pihaknya telah melakukan operasi pasar Minyakita di Pasar Argosari pada Selasa (26/5). Sebanyak 360 dus Minyakita disalurkan kepada 24 pedagang dengan harga jual Rp 15.500 per liter atau di bawah harga eceran tertinggi (HET). Ia mengatakan, operasi pasar dilakukan sebagai upaya pengendalian harga kebutuhan pokok di pasaran.
 
“Hari ini kami melakukan operasi pasar salah satunya untuk mengendalikan harga minyak premium. Harga jualnya juga sudah ditentukan pemerintah dan di bawah HET,” tandasnya. (bas)
Editor : Heru Pratomo
#rasulan #wonosari #idul adha #Pasar Argosari Wonosari #cabai merah