GUNUNGKIDUL - Memasuki pertengahan Mei, Kabupaten Gunungkidul mulai didominasi cuaca kering sebagai penanda musim kemarau. Kondisi tersebut membuat potensi kebakaran di kawasan permukiman meningkat, terutama akibat aktivitas pembakaran sampah maupun sisa pakan ternak oleh warga.
Kasubag TU Damkarmat Gunungkidul Ngadiyono mengatakan, sejak akhir April hingga Mei curah hujan di sebagian besar wilayah Gunungkidul sudah menurun drastis. Meskipun masih terdapat hujan lokal di beberapa titik, intensitasnya dinilai kecil dan tidak merata.
“Sekarang ini sudah memasuki musim kemarau. Selain kebakaran hutan, kebakaran di permukiman warga juga kami antisipasi,” ujarnya saat dihubungi, Minggu (24/5/2026).
Menurut dia, puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Juli hingga Agustus mendatang. Karena itu, ia meminta masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas yang memicu api terbuka di sekitar lingkungan rumah.
Ngadiyono menjelaskan, selain kawasan hutan, area permukiman menjadi titik rawan kebakaran selama musim kemarau. Kondisi tanah dan material di sekitar rumah yang semakin kering membuat api mudah merembet dan membesar.
“Bahan-bahan seperti dedaunan kering, kayu, hingga stok pakan ternak sangat mudah terbakar. Ketika ada aktivitas bakar sampah atau membakar sisa pakan ternak, potensi kebakaran besar bisa terjadi,” tegasnya.
Sebagai langkah antisipasi, Damkarmat Gunungkidul telah membentuk kelompok masyarakat penanggulangan kebakaran di sektor permukiman. Sosialisasi juga dilakukan ke kalurahan-kalurahan untuk meningkatkan kesadaran warga menghadapi kemarau panjang.
“Kami mengimbau masyarakat menekan aktivitas pembakaran sampah maupun pembakaran sisa pakan ternak selama musim kemarau berlangsung karena tahun ini diperkirakan lebih panjang dan lebih kering,” imbuhnya.
Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul Purwono mengatakan, pihaknya mencatat sepanjang April 2026 terdapat enam kejadian kebakaran di lima kapanewon. Rinciannya dua kejadian di Wonosari serta masing-masing satu kejadian di Playen, Tanjungsari, Ponjong, dan Ngawen.
Dalam penanganan kejadian tersebut, rata-rata waktu respons petugas Damkarmat tercatat 10 menit 48 detik sejak laporan diterima hingga petugas tiba di lokasi.
Baca Juga: Super League 2026/2027 Dimulai Awal September 2026, PSS Sleman Agendakan Latihan Perdana Awal Juli
Selain itu, ia juga menjelaskan kebakaran terbaru akibat aktivitas pembakaran sampah terjadi di Padukuhan Mojo RT 01 RW 03, Kalurahan Dadapayu, Kapanewon Semanu pada Sabtu (23/5/2026).
Berdasarkan laporan assessment, lanjut dia, api berasal dari aktivitas pemilik kandang yang membakar sisa makanan ternak di samping stok pakan kering. Kobaran api kemudian membesar dan menyambar kandang berisi jerami.
“Kebakaran saat musim kemarau umumnya dipicu kelalaian kecil yang berkembang cepat akibat kondisi cuaca kering dan angin kencang,” tegasnya.
Ia meminta, agar masyarakat lebih berhati-hati ketika melakukan aktivitas pembakaran di sekitar rumah maupun lahan terbuka agar kebakaran tidak meluas dan menimbulkan kerugian lebih besar.
“Kami mengimbau untuk bersama-sama menekan kejadian kebakaran baik di kawasan permukiman atau di kawasan hutan,” tandasnya. (bas)
Editor : Winda Atika Ira Puspita