GUNUNGKIDUL - Dari total 329 telaga yang tersebar di Kabupaten Gunungkidul, hanya sekitar 20 telaga yang masih mampu menyimpan air saat musim kemarau. Selebihnya, ratusan telaga mengalami kekeringan akibat sedimentasi parah hingga perubahan fungsi lahan.
Sayangnya, di tengah kondisi tersebut, Pemerintah Kabupaten Gunungkidul tahun ini belum mengalokasikan anggaran khusus untuk revitalisasi maupun pengerukan telaga.
Kepala Bidang Sumber Daya Air DPUPRKP Gunungkidul Sigit Swastono mengatakan, berdasarkan pendataan yang dilakukan, terdapat 309 telaga yang mengering selama musim kemarau berlangsung. Hampir 90 persen telaga di Gunungkidul saat ini mengalami sedimentasi akut, sehingga fungsi tampungan air tidak lagi optimal.
Pendangkalan akibat tumpukan lumpur membuat kapasitas telaga terus menurun dan mempercepat kekeringan ketika musim kemarau datang.
“Selama musim kemarau ada 20 telaga yang airnya tidak mengering, ya meskipun debitnya menyusut” ujarnya kepada wartawan, Minggu (24/5/2026).
Sigit mengakui, perbaikan fungsi telaga melalui revitalisasi sebenarnya menjadi kebutuhan mendesak. Namun, kata dia, keterbatasan anggaran membuat program tersebut belum bisa dijalankan pada tahun ini.
Ia mengaku, anggaran yang tersedia masih difokuskan untuk rehabilitasi dan peningkatan jaringan irigasi. Hal ini dilakukan guna mendukung program ketahanan pangan.
“Untuk revitalisasi atau pengerukan telaga tahun ini memang belum ada alokasi anggaran,” jelasnya.
Kendati demikian, pihaknya memastikan program revitalisasi telaga tetap menjadi perhatian Pemkab Gunungkidul untuk jangka panjang. Sebab, sambungnya, keberadaan telaga dinilai penting bagi sektor pertanian, peternakan, hingga cadangan air masyarakat saat musim kemarau.
Selain sedimentasi, pihaknya juga menemukan indikasi perubahan fungsi sejumlah telaga menjadi lahan pertanian. Kondisi tersebut turut mempercepat hilangnya fungsi telaga sebagai penampung air alami.
“Memang ada telaga yang berubah fungsi menjadi lahan pertanian, meskipun kami belum bisa menyebut detailnya,” imbuhnya.
Untuk mengurangi laju sedimentasi, DPUPRKP juga mendorong partisipasi masyarakat melakukan penghijauan di kawasan sekitar telaga. Ia menilai, penanaman vegetasi di lahan gundul penting untuk menekan aliran permukaan yang membawa lumpur masuk ke area telaga.
Baca Juga: Meski Nilai Tukar Rupiah Melemah, Perajin Batik Kayu Krebet Pilih Tak Naikkan Harga Produk
Kondisi serupa juga terjadi di Kalurahan Pacarejo, Kapanewon Semanu. Lurah Pacarejo Suhadi mengatakan, dari 13 telaga yang ada di wilayahnya, sembilan telaga sudah mengering akibat kemarau.
“Yang masih berfungsi ada empat telaga, yakni Telaga Jonge, Ledok, Sri Lutut, dan Sruweng. Sisanya sudah mengering,” ujarnya.
Menurut Suhadi, keberadaan telaga sangat penting bagi masyarakat, terutama untuk menopang kebutuhan pertanian dan peternakan warga. Karena itu, pihak kalurahan berharap ada program revitalisasi agar fungsi telaga dapat kembali normal. Dengan begitu, lanjut Suhadi, telaga bisa kembali menjadi penampungan air yang normal sehingga tidak mudah mengering.
“Kalau airnya ada, bisa dimanfaatkan untuk budidaya ikan maupun kebutuhan ternak,” harapannya. (bas)
Editor : Winda Atika Ira Puspita