GUNUNGKIDUL - Kenaikan harga kedelai impor mulai menekan pelaku usaha tahu di Kabupaten Gunungkidul. Sejumlah perajin terpaksa menyiasati lonjakan harga bahan baku dengan mengurangi ukuran maupun kepadatan tahu agar harga jual tetap bertahan dan pasar tidak terganggu.
Salah seorang perajin tahu di Padukuhan Sumbermulyo, Kepek, Wonosari Agung Gunawan mengatakan, harga kedelai impor mengalami kenaikan bertahap dalam empat bulan terakhir. Harga normal beberapa hari lalu sekitar Rp 9.000 per kilogram. Namun kini sudah menyentuh Rp11.000 per kilogramnya. “Sejak ramai perang itu mengalami kenaikan sedikit-sedikit, bertahap,” ujarnya saat ditemui di rumah produksinya Jumat (22/5).
Agung menjelaskan, setiap hari usahanya membutuhkan sekitar dua kuintal kedelai impor untuk produksi tahu. Di sisi lain, permintaan pasar justru meningkat dalam beberapa waktu terakhir seiring adanya kegiatan rasulan atau bersih desa di sejumlah kalurahan.
Untuk menekan biaya produksi, dia memilih menggunakan merek kedelai impor yang lebih murah meski kualitasnya tidak sepopuler merek sebelumnya. Selisih harga sekitar Rp 500 per kilogram, kata dia, cukup membantu karena pembelian dilakukan dalam jumlah besar. “Karena belinya kuintalan, efeknya sudah terasa lebih ringan,” katanya.
Kendati ada jenis kedelai lokal yang cenderung lebih mudah diakses, ia mengaku hal tersebut tidak menjadi solusi karena harganya justru lebih tinggi dibanding kedelai impor. Di pasaran, lanjut dia, harga kedelai lokal sekitar Rp 13.000 per kilogramnya. Selain mengganti bahan baku, Agung juga mengurangi komposisi campuran tahu agar biaya produksi dapat ditekan. Meski ukuran papan tahu tetap sama, kepadatan isi dikurangi.
Ia mencontohkan, takaran yang biasa digunakan dalam satu papan berisi dua kilogram empat ons kedelai. Namun, kini ia menyiasatinya dengan takaran sekitar dua kilogram satu ons. Hal tersebut ia lakukan agar harga tahu di pasaran tetap stabil.
Sampai saat ini, tahu hasil produksinya dijual dengan harga Rp 45 ribu hingga Rp 48 ribu per papan dengan berat rata-rata sekitar tujuh kilogram. “Saya jual di pasar tradisional terdekat seperti Pasar Playen dan Pasar Wonosari,” bebernya.
Sementara pengusaha tahu di Kalurahan Kepek Sakiyo mengaku, tidak bisa menaikkan harga jual. Sebab ia khawatir memengaruhi stabilitas pasar dan daya beli masyarakat. “Kita siasati dengan mengurangi jumlah produksi maupun ukuran,” katanya. (bas/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita