GUNUNGKIDUL - Kemunculan ubur-ubur jenis impes di kawasan pantai selatan Gunungkidul mengakibatkan tiga anak-anak tersengat pada Jumat (15/5). Namun kini, ubur-ubur sudah tak lagi terlihat. Kemunculan impes diprediksi akan kembali pada pertengahan Juli.
Koordinator Satlinmas Rescue Istimewa (SRI) Wilayah II Baron Marjono mengatakan, hingga saat ini belum ditemukan lagi ubur-ubur yang mengapung di permukaan tengah laut maupun terdampar di bibir pantai. “Sampai hari ini masih aman,” ujarnya kepada wartawan Senin (18/5).
Baca Juga: DPRD Gunungkidul Terus Godok Raperda Penyelenggaraan Reklame, Sebut Penataan Tak Boleh Sporadis
Menurut dia, setelah laporan kemunculan ubur-ubur di Pantai Sepanjang, petugas langsung melakukan penyisiran di kawasan bibir pantai hingga area tengah laut. Hasil pengecekan, kata dia, menunjukkan belum ada tanda-tanda kemunculan kembali ubur-ubur jenis impes tersebut. Marjono menjelaskan, kemunculan impes biasanya dipengaruhi perubahan suhu air laut. Saat musim kemarau dan suhu laut mulai dingin, ubur-ubur cenderung bergerak ke tepian pantai.
“Kalau di Gunungkidul biasanya mulai muncul pertengahan Juli dan puncaknya Agustus,” jelasnya.
Baca Juga: H-9 Jelang Idul Adha, Tren Pembelian Kambing Menurun, Harga Hewan Kurban Sapi Cnderung Melambung
Meski kondisi masih aman, pihaknya tetap melakukan pemantauan rutin di kawasan pantai selatan untuk mengantisipasi kemunculan ubur-ubur secara tiba-tiba. Personel SAR juga disiagakan untuk memberikan imbauan kepada wisatawan, khususnya anak-anak yang dinilai paling rentan tersengat.
Dia mengatakan, sengatan ubur-ubur dapat menimbulkan rasa panas dan perih seperti luka bakar pada kulit. Karena itu, wisatawan diminta tidak menyentuh ubur-ubur yang ditemukan di kawasan pantai. “Biasanya anak-anak tertarik karena warnanya biru seperti balon atau gelembung mainan, lalu dipegang dan akhirnya tersengat,” tambahnya.
Sementara itu, Sekretaris SRI Wilayah II Baron Surisdiyanto mengatakan, ubur-ubur impes yang muncul di pesisir selatan Gunungkidul termasuk golongan Scyphozoa. Kemunculannya dipengaruhi kondisi cuaca dan suhu laut yang mulai dingin saat musim kemarau.
“Untuk mengantisipasi kejadian lanjutan kami sudah menyiapkan obat-obatan untuk membersihkan sisa tentakel jika ada wisatawan tersengat,” ujarnya.
Selain obat-obatan, pihaknya juga telah menyiapkan perlengkapan medis, kendaraan operasional serta personel untuk penanganan pertama apabila terjadi insiden sengatan ubur-ubur di kawasan wisata pantai. “Secara peralatan medis dan personel kami siap. Sampai saat ini juga belum terlihat lagi ubur-ubur impes mendarat di pesisir pantai Gunungkidul,” tandasnya. (bas/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita