Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Pisang Bertandan Empat dari Ngawen Jadi Sorotan, Diklaim Tahan Serangan Virus

Yusuf Bastiar • Senin, 18 Mei 2026 | 21:30 WIB
UNIK: Varietas pisang yang tahan serangan virus di Kalurahan Tancep, Ngawen. (Dokumentasi Pemkab Gunungkidul)
UNIK: Varietas pisang yang tahan serangan virus di Kalurahan Tancep, Ngawen. (Dokumentasi Pemkab Gunungkidul)

GUNUNGKIDUL - Warga Padukuhan Wonongso, Tancep, Ngawen dibuat takjub dengan kemunculan varietas pisang unik yang mampu menghasilkan hingga empat tandan buah dalam satu batang pohon. Tak hanya langka, pisang tersebut juga dikenal tahan terhadap serangan virus yang selama ini menjadi momok petani pisang di wilayah Gunungkidul.

“Awalnya saya juga kaget karena satu batang pohon bisa menghasilkan tandan sampai empat,” ujar Pringadi, pemilik pohon pisang unik tersebut Senin (18/5).

Baca Juga: Dewan Kota Desak Kawasan Sempadan Sungai Jadi Prioritas Penataan Pemkot Jogja, Kondisi Kerusakan Pasca-Gempa Memicu Rawan Longsor

Menurut dia, fenomena itu mulai muncul sekitar 1,5 tahun lalu saat masa pemilihan presiden. Pohon pisang tersebut memiliki kemampuan menghasilkan anakan kembar yang kemudian tumbuh dan berbuah dalam jumlah tandan bervariasi, mulai dua hingga empat tandan dalam satu batang. 

Pringadi menjelaskan, bibit awal pisang tersebut berasal dari Sambirejo yang saat itu menjadi bagian dari program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Gadjah Mada (UGM). Padukuhan Wonongso kemudian menjadi wilayah penyangga pengembangan budi daya pisang tersebut.

Baca Juga: Harga LPG Non Subsidi Terus Mengalami Kenaikan, Agen Sebut Efek Dolar AS Tembus Rp 17 Ribu

Menurutnya, kemunculan varietas tersebut diduga merupakan bentuk mutasi genetika alami. Hingga kini, tanaman tersebut sudah memasuki masa panen ketujuh dengan karakteristik buah yang tetap konsisten. 

Keunggulan utama varietas tersebut, lanjutnya, bukan hanya pada jumlah tandannya. Tetapi juga ketahanannya terhadap penyakit. Saat tanaman pisang lain di sekitarnya banyak yang terserang virus atau penyakit yang dikenal warga sebagai bombrong tanaman tersebut tetap tumbuh sehat.

“Bahkan ditanam di bekas lahan yang pernah terkena virus pun tetap bisa tumbuh,” jelasnya.

 Baca Juga: Penggantian TKD Kalurahan Glagah dan Kalurahan Palihan di Kulon Progo Tertunda, Pergub DIY Nomor 24 Tahun 2024 Dinilai Multitafsir

Secara fisik, varietas tersebut termasuk jenis pisang ambon. Namun memiliki ciri khas kulit buah berwarna agak kehijauan dengan ukuran lebih besar dan rasa manis. Meski memiliki nilai ekonomi tinggi, Pringadi mengaku lebih sering mengonsumsi hasil panennya bersama keluarga serta membagikannya kepada tetangga.

 

“Satu pohon yang pernah dipanen bahkan ada yang laku sampai Rp 130 ribu,” lontarnya.

 

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul Rismiyadi mengatakan, pihaknya akan mengkaji fenomena tersebut untuk dikembangkan. Tak hanya itu, pihaknya juga berencana membudidayakan dan mengembangkan varietas pisang tersebut secara lebih luas.

 

“Kami berencana segera membudidayakan dan menangkarkan tanaman ini agar bisa dikembangkan lebih luas,” ujarnya.

 

Menurut dia, varietas pisang unik tersebut berpotensi menjadi ikon baru pertanian di Kalurahan Tancep. Selain memiliki keunikan, ketahanan terhadap penyakit juga dinilai menjadi nilai lebih untuk pengembangan budi daya pisang di Gunungkidul. “Mungkin nanti bisa diberi nama khusus agar menjadi ikon baru Ngawen dan memperkuat posisi Gunungkidul sebagai pemasok kebutuhan pisang di Jogjakarta,” tandasnya. (bas/eno)

 

 

Editor : Sevtia Eka Novarita
#Padukuhan Wonongso #varietas #Gunungkidul #Ngawen #Pisang