GUNUNGKIDUL - Cuaca ekstrem yang kerap terjadi di perairan selatan Gunungkidul membuat hasil tangkapan ikan nelayan menurun drastis. Kondisi tersebut memaksa sebagian nelayan beralih menangkap benih bening lobster atau benur agar tetap memperoleh penghasilan saat melaut.
Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Arghamina Dinas Kelautan dan Perikanan Gunungkidul Fadel Suhaji mengatakan, faktor cuaca menjadi penyebab utama turunnya hasil tangkapan ikan laut di wilayah pesisir Gunungkidul.
“Cuaca menjadi sangat berpengaruh karena sekarang lebih sering terjadi cuaca ekstrem. Gelombang tinggi dan embusan angin kencang sering terjadi sehingga nelayan memilih berhenti melaut,” ujarnya kepada wartawan, Kamis (14/5/2026).
Selain faktor cuaca, penurunan hasil tangkapan juga dipengaruhi perubahan aktivitas nelayan yang kini lebih banyak memilih menangkap benur dibanding mencari ikan. Ia menyebut, banyak nelayan yang beralih menangkap benih bening lobster.
Hal itu, kata dia, juga ikut mempengaruhi hasil tangkapan ikan laut. Berdasarkan catatan Dinas Kelautan dan Perikanan Gunungkidul, total hasil tangkapan ikan laut sepanjang 2025 hanya mencapai 489.259 kilogram.
“Jumlah tersebut turun sangat signifikan dibandingkan periode 2024 yang mencapai 923.054 kilogram atau sekitar 923 ton,” paparnya.
Data tersebut merupakan akumulasi hasil tangkapan dari delapan Tempat Pelelangan Ikan (TPI) di Gunungkidul. Delapan TPI itu meliputi TPI Baron di Kalurahan Kemadang, Kapanewon Tanjungsari; TPI Sadeng di Kalurahan Songbanyu, Girisubo; serta TPI Ngrenehan di Kalurahan Kanigoro, Saptosari. Kemudian TPI Drini di Kalurahan Banjarejo, Tanjungsari; TPI Gesing di Kalurahan Girikarto, Panggang; TPI Siung di Kalurahan Purwodadi; serta TPI Ngandong di Kalurahan Sidoharjo, Kapanewon Tepus.
Suhaji mengakui, penurunan hasil tangkapan tahun ini menjadi salah satu yang paling signifikan dalam beberapa tahun terakhir.
“Kondisi cuaca buruk yang berlangsung cukup panjang membuat aktivitas melaut tidak bisa dilakukan secara maksimal,” imbuhnya.
Sementara itu, Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Gunungkidul Rujimanto mengatakan, paceklik ikan membuat sebagian nelayan kesulitan menutup biaya operasional saat melaut.
“Kalau ikan sulit didapat, hasil tangkapannya tidak menutupi biaya operasional di laut. Menangkap benur menjadi solusi karena prosesnya lebih mudah,” katanya.
Ia menjelaskan, untuk menangkap benur nelayan hanya membutuhkan alat penerangan dan karung goni sebagai media tangkap. Namun demikian, aktivitas tersebut tetap sangat bergantung pada kondisi cuaca di laut selatan.
Baca Juga: Momen Long Weekend, Malioboro Masih Lengang dan Hotel Belum Ramai: Ini Penyebabnya!
Menurut Rujimanto, kondisi cuaca ekstrem yang terus terjadi membuat nelayan menghadapi masa paceklik lebih panjang dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Akibatnya, pendapatan nelayan ikut menurun karena aktivitas penangkapan ikan tidak dapat dilakukan secara rutin.
“Kalau cuaca buruk tetap tidak bisa melaut. Tapi karena hasil ikan sedang sulit, banyak nelayan memilih mencari benur supaya tetap ada pemasukan,” tandasnya. (bas)
Editor : Winda Atika Ira Puspita