GUNUNGKIDUL - Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non subsidi jenis dexlite berdampak langsung terhadap operasional Bus Sibona sekolah milik Pemkab Gunungkidul.
Akibat membengkaknya biaya operasional, enam rute layanan bus sekolah kini tidak lagi melayani penjemputan kepulangan siswa dan hanya beroperasi pada pagi hari untuk keberangkatan menuju sekolah.
Kepala Bidang Angkutan dan Terminal Dinas Perhubungan Gunungkidul Sigit Wijayanto mengatakan, kebijakan pengurangan jam operasional dilakukan agar layanan bus sekolah tetap bisa berjalan hingga akhir tahun anggaran. Saat ini, kata dia, dari total tujuh rute bus sekolah, hanya trayek Semin-Wonosari yang masih melayani perjalanan pulang-pergi secara penuh.
Sedangkan untuk rute Ponjong-Wonosari, Semanu-Wonosari, Sokoliman-Wonosari, Tanjungsari-Wonosari, Gedangsari-Wonosari dan Nglipar-Wonosari, layanan penjemputan kepulangan siswa sementara ditiadakan. “Ya, ditiadakan jadi kepulangan siswa nanti bisa dijemput orang tua,” ungkapnya saat dihubungi, Selasa (12/5/2026).
Baca Juga: Revisi Perda KTR di Kota Jogja Mulai Dibahas Juni, Batas Usia Pembelian Rokok Naik Jadi 21 Tahun
Menurut dia, pengurangan layanan dilakukan karena kenaikan harga BBM non subsidi sangat mempengaruhi kemampuan operasional armada. Dalam satu tahun, sambung dia, anggaran operasional bus sekolah sebesar Rp392 juta per unit tidak hanya dipergunakan untuk membeli BBM, tetapi juga pemeliharaan armada hingga pembayaran pajak kendaraan.
“Untuk BBM kami menggunakan dexlite sehingga sangat berpengaruh ketika harga naik. Dalam dua bulan terakhir kenaikannya cukup signifikan,” ujarnya.
Sigit menjelaskan, harga dexlite pada awalnya berada di kisaran Rp14.200 per liter. Namun pada April 2026 naik menjadi Rp23.600 per liter dan kembali meningkat pada awal Mei hingga mencapai Rp26.000 per liter.
Baca Juga: Sapi Bantuan Presiden di Kota Jogja Bakal Disembelih di Pemukiman Bantaran Sungai, Ini Lokasinya
Berdasarkan hasil kajian Dishub Gunungkidul, saat harga dexlite masih Rp23.600 per liter, operasional bus sekolah diperkirakan hanya mampu bertahan hingga akhir Juni. Dengan kenaikan terbaru, pihaknya memperkirakan kemampuan anggaran akan semakin berat.
“Kami belum menghitung detail dengan harga Rp26 ribu per liter, tapi jelas anggaran yang ada tidak cukup untuk operasional sampai akhir tahun,” jelasnya.
Untuk sementara, siswa yang pulang sekolah harus dijemput orang tua menggunakan kendaraan pribadi. Dishub juga telah menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat atas pengurangan layanan tersebut.
Sigit menambahkan, hingga kini belum ada kepastian penambahan anggaran operasional. Oleh sebab itu, Dishub memilih memangkas jam layanan dibanding menghentikan operasional sepenuhnya.
“Kebijakan ini diambil agar pelayanan tetap berjalan dengan kemampuan anggaran yang ada,” imbuhnya.
Sementara itu, Sekretaris Dinas Perhubungan Gunungkidul Bayu Susilo Aji mengakui, kenaikan BBM non subsidi memberi tekanan besar terhadap keberlangsungan layanan bus sekolah. Pihaknya kini menyiapkan sejumlah skema agar layanan transportasi pelajar tetap dapat dipertahankan.
Baca Juga: Dugaan Pelecehan Berujung Pembunuhan, Pria di Magelang Hajar Rekan Kerja Tunangan hingga Tewas
“Salah satu opsi yang kami perjuangkan adalah penambahan anggaran operasional,” ujar Bayu.
Selain itu, Dishub juga tengah melobi agar armada bus sekolah mendapat izin menggunakan BBM jenis biosolar. Menurutnya, bus sekolah merupakan armada pelayanan umum yang mendukung keselamatan lalu lintas sehingga diharapkan dapat memperoleh pengecualian sesuai ketentuan yang berlaku.
“Ini masih kami perjuangkan, tapi tetap mengacu aturan dan ketentuan yang berlaku,” tandasnya. (bas)