Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Damkarmat Bentuk Kelompok Peduli Api, Antisipasi Kebakaran Hutan saat Kemarau Panjang

Yusuf Bastiar • Senin, 11 Mei 2026 | 21:15 WIB
LOKASI RAWAN: Pengendara sedang melintas di kawasan Hutan Suaka Margasatwa Paliyan. (Yusuf Bastiar/Radar Jogja)

 
LOKASI RAWAN: Pengendara sedang melintas di kawasan Hutan Suaka Margasatwa Paliyan. (Yusuf Bastiar/Radar Jogja)  

GUNUNGKIDUL - Ancaman kebakaran hutan dan lahan selama kemarau mulai diantisipasi oleh Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) Gunungkidul. Salah satunya dengan pembentukan kelompok masyarakat peduli api guna memperkuat deteksi dini dan penanganan kebakaran di kawasan hutan.

Kepala Pelaksana Damkarmat Gunungkidul Handoko mengatakan, selain menyiapkan 30 personel siaga, pihaknya juga memperkuat keterlibatan masyarakat. Hal tersebut dilakukan karena selama ini, penanganan kebakaran hutan terkendala akses medan yang sulit dijangkau armada pemadam.

Baca Juga: Penyembelihan Hewan Kurban di Kota Jogja Diimbau Senafas dengan Mas Jos, Jangan Buang Sembarangan Limbah Padat dan Cair

Ia mencontohkan peristiwa kebakaran hutan di kawasan Wonosadi pada 2023. Saat itu mobil pemadam tidak dapat masuk ke lokasi, sehingga proses penanganan dilakukan secara manual dengan membuat sekat bakar agar api tidak meluas. “Mobil hanya sampai di titik tertentu, selanjutnya pemadaman dilakukan manual oleh petugas dan warga,” tegasnya Senin (11/5).

Berangkat dari pengalaman tersebut, Damkarmat membentuk kelompok masyarakat peduli api yang melibatkan warga sekitar kawasan hutan, khususnya para petani. Mereka diharapkan mampu melakukan deteksi dini dan pemadaman awal sebelum api membesar. “Ketika melihat sumber api bisa langsung dipadamkan agar tidak menimbulkan risiko lebih besar,” jelasnya.

Baca Juga: MaglS Jadi Stadion Angker di Kompetisi Championship Musim 2025/2026, PSS Sleman Tak Pernah Terkalahkan di Kandang Kecuali saat Final

Kelompok masyarakat peduli api difokuskan di wilayah rawan kebakaran. Seperti Kapanewon Playen, terutama di Kalurahan Playen, Banyusoco, dan Giring yang berada di kawasan penyangga hutan. Selain itu, kelompok serupa juga telah terbentuk di sekitar kawasan hutan Wonosadi.

Menurut Handoko, titik rawan kebakaran hutan di Gunungkidul tersebar di beberapa wilayah. Seperti Playen, Ngawen, Panggang, perbatasan Rongkop, kawasan Tahura, hingga Hutan Wanagama. Selain memperkuat personel, pemerintah juga terus melakukan sosialisasi kepada masyarakat menggunakan dukungan anggaran APBD maupun bantuan dari Kementerian Kehutanan untuk pencegahan kebakaran. “Kami siaga 24 jam, warga bisa melapor ke kami jika ada kejadian kebakaran hutan, baik skala kecil maupun besar,” tandasnya.

Baca Juga: Road to MJM 2026, Bank Mandiri Dorong Dampak Sosial Berkelanjutan di Sepanjang Jalur Maraton 

Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul Purwono mengatakan, kesiapsiagaan kebakaran hutan tahun ini ditingkatkan karena musim kemarau diprediksi lebih panjang. Puncak kekeringan diprediksi terjadi pada Agustus hingga September. “Kami memang mempersiapkan penanganan kebakaran hutan lebih serius pada 2026 karena prediksi kemarau lebih panjang dan lebih kering,” ujarnya.

BPBD telah melakukan pemetaan kawasan rawan kebakaran berdasarkan pengalaman kejadian pada 2023 lalu. Wilayah rawan didominasi kawasan hutan di bawah pengelolaan dinas kehutanan seperti Suaka Margasatwa Paliyan serta kawasan Karangmojo yang berbatasan dengan Kapanewon Semin.

 Baca Juga: Tak Kuat Menanjak, Truk Pengangkut Excavator Terguling di Tanjakan Bibis Girimulyo Kulon Progo

Purwono menyebut, angka kebakaran hutan pada 2024 dan 2025 relatif menurun karena musim kemarau cenderung basah. Namun potensi peningkatan kebakaran kembali muncul tahun ini seiring prediksi cuaca kering berkepanjangan. Untuk penanganan kebakaran hutan, sambung dia, BPBD menyiapkan 24 personel tambahan yang akan bersinergi dengan Damkarmat serta masyarakat setempat.

 

“Belajar dari pengalaman sebelumnya, penanganan kebakaran hutan selalu membutuhkan bantuan warga dan pemerintah kalurahan,” katanya.

Menurut Purwono, penyebab kebakaran yang paling sering ditemukan berasal dari aktivitas warga membersihkan lahan saat peralihan musim kemarau menuju musim hujan. Tumpukan ranting dan daun kering yang dibakar kerap memicu api merambat ke kawasan hutan.

 

“Ini yang terus kami edukasikan ke masyarakat agar pembakaran daun tidak dilakukan sembarangan,” tandasnya. (bas/eno)

 

Editor : Sevtia Eka Novarita
#Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) Gunungkidul #damkarmat gunungkidul #masyarakat peduli api #kemarau #kebakaran hutan