GUNUNGKIDUL - Ancaman kemarau panjang yang diprediksi melanda Indonesia pada 2026 mulai diantisipasi Pemkab Gunungkidul. Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Gunungkidul terus memantau pertanaman padi musim tanam kedua (MT II) guna memitigasi dampak kekeringan, terutama di wilayah pertanian tadah hujan.
Sekretaris DPP Gunungkidul Raharjo Yuwono mengatakan, berdasarkan prakiraan BMKG, Indonesia diperkirakan mengalami kemarau kering dan panjang akibat pengaruh El-Nino mulai akhir April atau awal Mei hingga Oktober 2026.
“Kondisi itu juga diperkirakan terjadi di Gunungkidul yang memang didominasi pertanian tadah hujan dan merupakan wilayah relatif kering,” katanya kepada wartawan, Minggu (10/5/2026).
Raharjo menjelaskan, pemkab terus melakukan monitoring terhadap pertanaman padi, khususnya di sentra produksi seperti Kapanewon Semin. Hingga awal Mei 2026, wilayah tersebut masih diguyur hujan sehingga dinilai cukup aman untuk mendukung pertumbuhan padi MT II.
Ia memaparkan, curah hujan di wilayah Semin selama awal tahun masih cukup tinggi. Pada Januari tercatat mencapai 418 milimeter (mm), Februari 261,5 mm, Maret 269,5 mm, April 297 mm, dan Mei masih mencapai 65,5 mm.
“Dengan kondisi itu, pertanaman padi masih aman dan diperkirakan mulai panen pada minggu ketiga Mei 2026,” jelasnya.
Baca Juga: Dinas Kesehatan Provinsi DIY: Pasien Suspek Hantavirus di Kulon Progo Dipastikan Negatif
Luas pertanaman padi di Kapanewon Semin yang ditanam pada Februari hingga Maret 2026 tercatat mencapai 2.924 hektare.
Pemerintah optimistis padi musim tanam kedua tetap dapat dipanen karena beberapa wilayah seperti Candirejo masih memiliki sumber air tanah maupun air permukaan yang mencukupi.
Sementara itu, Kepala DPP Gunungkidul Rismiyadi menambahkan, petani mulai beradaptasi menghadapi ancaman kemarau dengan menanam varietas padi umur pendek yang lebih cepat dipanen.
Beberapa jenis yang mulai banyak digunakan petani antara lain varietas Pajajaran, M70D, dan Trisakti yang tersedia di pasaran bebas.
“Sekarang banyak petani mulai tertarik menanam padi umur pendek sehingga tanaman sudah mulai menguning dan siap panen lebih cepat,” jelasnya.
Menurutnya, kondisi pertanaman di Kapanewon Ngawen juga hampir serupa dengan Semin. Tanaman padi diperkirakan siap dipanen mulai minggu ketiga Mei hingga awal Juni 2026. Secara keseluruhan, luas pertanaman padi MT II di Gunungkidul mencapai sekitar 8.756 hektare.
Diharapkan ketersediaan air tetap mencukupi hingga masa panen sehingga produksi padi tidak terganggu meski musim kemarau diprediksi berlangsung panjang.
“Harapannya air masih cukup sampai panen dan didukung penggunaan varietas padi umur pendek,” imbuhnya. (bas/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita