GUNUNGKIDUL - Ancaman kekeringan mulai diantisipasi Pemerintah Kabupaten Gunungkidul menjelang musim kemarau 2026. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul memetakan sedikitnya 13 kapanewon rawan mengalami krisis air bersih saat puncak kemarau pada Agustus-September.
Kepala BPBD Gunungkidul Purwono mengatakan, musim kemarau tahun ini diprediksi berlangsung cukup panjang hingga November. Kawasan selatan dan timur Gunungkidul masih menjadi wilayah paling rawan terdampak kekeringan. Karena karakteristik perbukitan karst yang minim sumber air permukaan.
Baca Juga: Kurangi Pengeluaran Rumah Tangga lewat KWT, DKPP Bantul Targetkan Ada 993 Kelompok Wanita Tani
Menurutnya, 13 kapanewon yang masuk kategori rawan kekurangan air bersih meliputi Kapanewon Purwosari, Panggang, Saptosari, Tanjungsari, dan Tepus. Kemudian Kapanewon Girisubo, Rongkop, Nglipar, Gedangsari, Patuk, Paliyan, Ponjong, dan Semanu. Purwono menyebut, kawasan selatan menjadi titik paling rentan. “Distribusi air bersih lebih sulit dibanding wilayah lain,” bebernya.
Untuk mengantisipasi dampak kekeringan, BPBD mulai menyiapkan armada dan stok bantuan air bersih. Sebanyak 1.500 tangki air telah disiapkan untuk didistribusikan ke kalurahan terdampak selama musim kemarau berlangsung. “Empat armada sudah kami siapkan untuk wilayah rawan. Kami juga berkoordinasi dengan pemerintah kapanewon dan kalurahan agar distribusi berjalan lancar,” katanya.
Wilayah prioritas droping air meliputi Kapanewon Panggang, Purwosari, Paliyan, Rongkop, Tanjungsari, Patuk, Nglipar, dan Gedangsari. Persiapan tahun ini diakui jauh lebih besar dibanding musim kemarau 2025. Sebab hanya menyiapkan sekitar 300 tangki air karena curah hujan masih cukup tinggi.
Kendati demikian, BPBD mengaku belum menerima permintaan droping air dari masyarakat hingga awal Mei. Kondisi itu menunjukkan cadangan air warga masih relatif aman. Lantaran sebagian wilayah masih diguyur hujan pada masa peralihan musim.
“Kalau ada permintaan langsung kami tindak lanjuti. Biasanya permintaan droping mulai meningkat pada pertengahan hingga akhir musim kemarau,” ungkapnya.
Baca Juga: Dinkes Kulon Progo Temukan Satu Suspek Hantavirus, Penularan Lewat Hewan Pengerat
BPBD juga terus memperbarui informasi cuaca dengan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG). Diperkirakan, kemarau di DIY mulai berlangsung pada dasarian I Mei 2026. Puncak kemarau diprediksi terjadi pada Agustus hingga September. Sedangkan musim hujan diperkirakan kembali pada dasarian I November 2026.
Purwono mengimbau masyarakat mulai melakukan penghematan penggunaan air bersih sejak dini/ Terutama warga yang tinggal di kawasan rawan kekeringan. Menurutnya, langkah antisipasi penting dilakukan agar kebutuhan air tetap tercukupi selama musim kemarau panjang. “Prediksinya, musim kemarau tahun ini berlangsung lebih panjang dan kering,” tandasnya.
Sementara itu, Dukuh Pagerjurang, Kampung, Ngawen Risdiyanto mengatakan, kondisi air di wilayahnya masih relatif aman karena warga mengandalkan sumur bor. Namun, ia mengakui kekhawatiran mulai muncul apabila musim kemarau berlangsung panjang. Sebab sekitar 230 kepala keluarga di Padukuhan Pagerjurang bergantung pada sumber air tersebut untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. “Biasanya (air sumur bor, Red) mulai tidak aman sampai September,” ujarnya. (bas/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita