GUNUNGKIDUL - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gunungkidul mempercepat rehabilitasi Jembatan Jonge di Kalurahan Pacarejo, Kapanewon Semanu, menyusul kondisi kerusakan yang dinilai membahayakan keselamatan pengguna jalan. Infrastruktur vital penghubung antarwilayah itu kini ditargetkan selesai Juni 2026 mendatang.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (DPUPRKP) Gunungkidul Rakhmadian Wijayanto mengatakan, rehabilitasi jembatan dilakukan secara intensif karena kerusakan terus berkembang akibat faktor usia bangunan dan korosi pada struktur utama.
Proyek rehabilitasi diperkirakan menelan anggaran sekitar Rp180 juta. Progres pengerjaan telah mencapai sekitar 47 persen.
“Awalnya diperkirakan selesai September, tetapi sekarang kami percepat dan ditargetkan rampung penuh pada Juni mendatang,” ujarnya kepada wartawan, Jumat (8/5/2026).
Percepatan penanganan dilakukan karena jembatan tersebut memiliki fungsi strategis sebagai jalur ekonomi dan akses publik utama masyarakat. Kerusakan yang muncul juga dinilai mendesak, sehingga pemerintah daerah mengambil langkah cepat melalui skema swakelola.
“Karena sifatnya mendesak dan di luar perencanaan awal, kami menggunakan dana swakelola agar pelaksanaan bisa lebih cepat,” katanya.
Baca Juga: Dinkes Kulon Progo Temukan Satu Suspek Hantavirus, Penularan Lewat Hewan Pengerat
Rakhmadian menambahkan, penanganan Jembatan Jonge menjadi prioritas pemkab meski terdapat banyak laporan kerusakan infrastruktur di sejumlah wilayah lain. Selain karena berada dalam kewenangan kabupaten, kondisi jembatan dinilai memiliki tingkat urgensi tinggi terhadap keselamatan masyarakat.
“Bupati Gunungkidul meminta agar penanganan dilakukan secepatnya. Beliau khawatir kerusakan semakin melebar dan membahayakan pengguna jalan,” tandasnya.
Sementara itu, Lurah Pacarejo Suhadi mengatakan, Jembatan Jonge merupakan urat nadi transportasi masyarakat di wilayah Semanu dan sekitarnya. Jembatan tersebut menghubungkan Kalurahan Pacarejo dengan pusat pemerintahan Kapanewon Semanu sekaligus menjadi akses antarwilayah seperti Candirejo, Semanu, dan Ngeposari.
Baca Juga: Terganjal Status Tanah Pembangunan KDMP di Kulon Progo Terhambat, Baru 10 Kalurahan Dirikan Gerai
Tak hanya itu, jembatan juga menjadi jalur utama kendaraan dari arah Jawa Tengah dan Jawa Timur menuju kawasan wisata di Gunungkidul.
“Jembatan ini sangat vital karena menjadi akses utama masyarakat dan jalur kendaraan antardaerah,” katanya.
Adapun pembangunan terakhir Jembatan Jonge dilakukan pada 1976 silam. Seiring usia bangunan, aliran air di bawah jembatan yang cukup besar menyebabkan korosi pada struktur.
Kondisi itu memicu munculnya lubang dan retakan yang berpotensi membahayakan pengendara. Ia bersyukur penanganan segera dilakukan sehingga saat ini belum terjadi korban jiwa maupun kecelakaan lalu lintas akibat kerusakan jembatan tersebut.
“Kami langsung melaporkan kondisi ini ke Dinas PU Gunungkidul dan responsnya sangat cepat,” tambahnya. (bas/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita