GUNUNGKIDUL - Inovasi sederhana lahir dari tangan warga Kalurahan Hargomulyo, Kapanewon Gedangsari. Seorang petani setempat, Sudjoko, berhasil menciptakan mesin pemilah gabah yang mampu mempercepat proses pascapanen secara signifikan. Jika sebelumnya pemilahan dilakukan manual hingga berhari-hari, kini dalam sehari bisa menuntaskan hingga 50 karung gabah.
Sudjoko menjelaskan, sebelum menggunakan mesin buatannya, proses pemisahan gabah berisi dan gabah kosong (kopong) dilakukan secara manual menggunakan tampah. Tahapan ini menjadi bagian penting setelah padi dipanen, dirontokkan, dan dijemur kering.
“Dulu itu setelah kering harus dipisahkan antara yang berisi dan yang kopong. Pakai tampah, bisa berhari-hari bahkan sampai sebulan kalau banyak,” ujarnya saat ditemui di halaman rumah miliknya, Senin (4/5).
Berangkat dari kebutuhan tersebut, ia kemudian mencoba merancang alat sederhana meski tanpa latar belakang teknik atau elektronik. Ide awal muncul dari pengamatan terhadap mesin penggilingan padi. “Di mesin penggilingan itu kan ada alur jatuhnya padi. Terus saya tambahi ada kipas. Dari situ saya coba kembangkan,” jelasnya.
Mesin rakitan Sudjoko bekerja dengan prinsip aliran udara. Gabah dimasukkan melalui bagian atas, kemudian saat turun, kipas yang digerakkan dinamo akan memisahkan antara gabah berisi dan gabah kosong. Gabah berisi akan jatuh ke bagian depan, sementara gabah kopong terdorong ke belakang.
“Jadi otomatis terpisah. Yang berisi langsung masuk ke ember atau karung, lebih cepat,” katanya.
Untuk merakit alat tersebut, Sudjoko memanfaatkan bahan sederhana yang tersedia di rumah. Rangka mesin dibuat dari kayu bekas, sementara komponen utama seperti kipas dan dinamo memanfaatkan perangkat yang ada. Inovasi sederhana ini, kata dia, menjadi bukti bahwa kreativitas warga mampu menjawab kebutuhan di lapangan. Selain meningkatkan efisiensi kerja, alat tersebut juga memperkuat semangat gotong royong di kalangan petani.
“Kayunya pakai yang ada di rumah, tidak beli. Yang penting kuat. Dinamonya pakai yang biasa buat pompa air,” imbuhnya.
Baca Juga: Putusan Hukuman Sri Purnomo Tak Sesuai Tuntutan, JPU Perkara Dana Hibah Sampaikan Banding
Awalnya, mesin tersebut hanya digunakan untuk kebutuhan pribadi. Namun, karena dinilai efektif, warga sekitar mulai meminjam alat tersebut secara bergiliran. Tradisi gotong royong membuat alat itu dimanfaatkan bersama tanpa biaya. Hingga kini, setidaknya sudah empat warga yang memesan mesin serupa untuk digunakan sendiri.
“Awalnya dipinjam, terus dipakai bergantian. Lama-lama ada yang pesan dibuatkan,” katanya.
Salah satu pengguna Kasio mengaku, sangat terbantu dengan keberadaan alat tersebut. Menurutnya, proses pemilahan gabah yang sebelumnya memakan waktu lama kini bisa dipangkas drastis. Sepengalamannya saat memilah gabah menggunakan tampah, satu karung membutuhkan waktu hampir satu jam. Ia menambahkan, kondisi pertanian di wilayah Hargomulyo yang menghasilkan puluhan karung gabah setiap panen membuat efisiensi waktu menjadi sangat penting.
“Hasil panen bisa banyak, jadi kalau manual itu capek dan lama. Dengan alat ini sangat membantu petani,” tandasnya. (bas)
Editor : Sevtia Eka Novarita