GUNUNGKIDUL - Rencana pembangunan dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di sekitar Kalurahan Ngunut, Kapanewon Playen, membuka harapan baru bagi kelompok tani wanita (KWT). Salah satunya KWT Padukuhan Krenen yang berharap dapat dilibatkan sebagai pemasok sayuran untuk mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Ketua KWT Krenen Anjar Sumarni menuturkan, kelompoknya selama ini aktif mengelola lahan pertanian sayur secara swadaya. Dengan luas lahan hampir 1.000 meter persegi, para anggota yang mayoritas berusia di atas 40 tahun menggarap lahan mulai dari pengolahan hingga panen secara gotong royong.
“Dari nyangkul sampai panen kami kerjakan bersama. Jenis sayur juga beragam, tapi memang masih secara konvensional,” ujarnya kepada wartawan, Minggu (3/5/2026).
Baca Juga: Akhirnya, Tepat di Hari Pendidikan 242 Jabatan Kepala Sekolah di Kebumen Terisi
Meski produksi cukup melimpah, KWT Krenen masih menghadapi kendala klasik pada aspek pemasaran. Saat panen raya, hasil pertanian kerap sulit terserap pasar. “Kadang panennya banyak, tapi bingung menjualnya. Sampai kami jual lewat WhatsApp, keliling dari rumah ke rumah supaya habis,” ungkapnya.
Karena itu, keberadaan dapur SPPG di wilayah sekitar dinilai dapat menjadi solusi atas persoalan tersebut. Anjar berharap KWT tidak hanya dari Krenen, tetapi juga dari padukuhan lain di Gunungkidul dapat dilibatkan sebagai pemasok bahan baku.
“Kalau hanya satu KWT tentu tidak cukup. Tapi kalau KWT di wilayah sekitar dirangkul, ini bisa jadi solusi bersama. Harapannya ada kepastian pasar bagi hasil panen kami,” jelasnya.
Menurutnya, kepastian pasar akan berdampak langsung pada peningkatan produktivitas dan kesejahteraan anggota KWT. Selain itu, peran perempuan dalam sektor pertanian juga akan semakin kuat.
“Kalau pasarnya jelas, ibu-ibu pasti lebih semangat dan berkembang. Ini bisa memajukan ekonomi kelompok secara bersama-sama,” tambahnya.
Sementara itu, Sekretaris Yayasan Bijana Paksi Sitengsu Tendi Hanggoro menyatakan, dapur SPPG yang akan dibangun di Kalurahan Dengok memang dirancang untuk melibatkan masyarakat lokal sebagai pemasok utama, salahsatunya ibu-ibu PKK dan KWT di Kalurahan Ngunut.
Sebab, lokasinya berdekatan. Program ini, kata dia, tidak hanya berorientasi pada pemenuhan gizi, tetapi juga pemberdayaan ekonomi warga.
“Harapannya dapur ini menjadi kepastian pasar bagi KWT. Selain itu, juga mendorong peningkatan ekonomi masyarakat,” katanya.
Tendi menjelaskan, pihaknya juga menyiapkan pendampingan bagi kelompok tani, termasuk pelatihan dan akses informasi melalui layanan call center. Saat ini, yayasan telah menggandeng petani lokal dan mulai memperluas kerja sama dengan KWT serta kelompok PKK.
“Kami ingin dapur ini tidak dikuasai supplier besar, tetapi benar-benar memberdayakan masyarakat sekitar,” tegasnya.
Ke depan, dapur SPPG akan disinergikan dengan potensi wilayah melalui konsep lumbung Mataram. Dengan demikian, hasil pertanian lokal dapat langsung diserap untuk memenuhi kebutuhan dapur. “Harapannya masyarakat tidak hanya jadi penonton, tetapi ikut merasakan manfaat ekonomi secara langsung,” tandasnya. (bas)
Editor : Heru Pratomo