GUNUNGKIDUL - Pelaksanaan tes kemampuan akademik (TKA) jenjang sekolah dasar (SD) di Kabupaten Gunungkidul memasuki gelombang ketiga. Meski pelaksanaan ujian berjalan relatif lancar, namun sejumlah sekolah masih menghadapi kendala teknis. Berupa jaringan internet yang belum stabil hingga keterbatasan perangkat komputer.
Kepala Bidang TK/SD Dinas Pendidikan Gunungkidul Asbani Saputra mengatakan, saat ini pihaknya masih melakukan pendataan terhadap berbagai kendala yang muncul selama pelaksanaan TKA. “Memang ada kendala dan sedang kami inventarisasi. Salah satunya persoalan jaringan internet, meski hanya terjadi di beberapa titik,” ujarnya saat dihubungi Senin (27/4).
Menurut dia, tantangan terbesar dalam pelaksanaan TKA kali ini adalah perbedaan kesiapan sarana antarsekolah. Tidak semua sekolah, kata dia, memiliki perangkat komputer atau gawai yang memadai untuk menampung seluruh peserta dalam satu waktu.
Kondisi tersebut membuat sebagian sekolah harus membagi peserta ke dalam beberapa sesi pelaksanaan. Bahkan, ada sekolah yang terpaksa meminjam perangkat dari pihak lain agar pelaksanaan ujian tetap berjalan sesuai jadwal.
“Ada sekolah yang bisa satu sesi karena alatnya cukup. Tapi ada juga yang harus dua sesi karena keterbatasan perangkat,” rincinya.
Pelaksanaan TKA di Gunungkidul berlangsung pada 20-30 April 2026. Skema gelombang diterapkan untuk menyesuaikan kesiapan sarana dan prasarana di masing-masing sekolah. Asbani menjelaskan, hingga kini evaluasi terkait tingkat kesesuaian soal dengan materi pembelajaran di sekolah belum dapat dilakukan karena pelaksanaan masih berlangsung. Namun sebelumnya, sekolah telah mengikuti simulasi atau try out sebagai bagian dari persiapan siswa menghadapi TKA.
Ia menambahkan, penyusunan soal melibatkan tim dari daerah hingga Balai Penjaminan Mutu Pendidikan guna menjaga standar mutu asesmen. Menurut dia, hasil TKA tidak menjadi penentu kelulusan siswa kelas VI. Nilai yang diperoleh akan digunakan untuk pemetaan mutu pendidikan serta menjadi salah satu komponen dalam seleksi penerimaan murid baru (SPMB) ke jenjang berikutnya.
Sementara itu, Ketua Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S) Gunungkidul Ngatijo turut membenarkan kendala jaringan dan perangkat dalam pelaksanaan TKA. Hal ini pun harus menjadi catatan evaluasi. “(Tapi, Red) secara umum berjalan dengan baik,” tegasnya.
Dia menyebut, TKA tidak sekadar ujian akademik. Tetapi juga bertujuan mengukur capaian pembelajaran siswa. “Sekaligus menjadi alat diagnosis nasional untuk memetakan kualitas pendidikan dasar,” tandasnya. (bas/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita