GUNUNGKIDUL - Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi mulai berdampak pada Sistem Transportasi Bus Sekolah Ramah Anak (Si Bona) di Kabupaten Gunungkidul. Sebab jika tidak ada tambahan anggaran, operasional Si Bona dipastikan tidak akan bertahan hingga akhir tahun.
Kepala Bidang Angkutan dan Terminal Dinas Perhubungan Gunungkidul Sigit Wijayanto mengatakan, saat ini Dishub memiliki tujuh unit bus sekolah yang masih beroperasi normal melayani antar jemput pelajar di sejumlah rute. Namun, kata dia, lonjakan harga BBM non-subsidi membuat beban operasional meningkat signifikan. Jika tidak segera ada penyesuaian anggaran, layanan dikhawatirkan tidak mampu berjalan sampai akhir tahun.
“Kami tidak boleh menggunakan BBM subsidi,” ujarnya saat dihubungi Jumat (24/4).
Menurut dia, kebutuhan operasional satu unit bus sekolah mencapai sekitar Rp 392 juta per tahun. Anggaran tersebut tidak hanya untuk pembelian bahan bakar. Tetapi juga servis berkala, perawatan kendaraan, serta pembayaran pajak.
Dengan tujuh unit armada yang dimiliki, kebutuhan anggaran keseluruhan menjadi cukup besar. Karena itu, dishub kini tengah melakukan penghitungan ulang menyusul kenaikan harga Dexlite dari Rp 14.200 menjadi Rp 23.600 per liter. “Itulah kenapa harus ada penambahan anggaran. Kalau tidak ada tambahan, alokasi yang tersedia tidak cukup untuk operasional hingga akhir tahun,” tegasnya.
Sigit menambahkan, persoalan itu sudah dikoordinasikan dengan tim anggaran pemerintah daerah (TAPD). Sekretariat Daerah disebut telah memberi perhatian agar layanan bus sekolah tetap berjalan. “Mudah-mudahan ada kebijakan dari pimpinan supaya layanan bus sekolah tidak terhenti,” imbuhnya.
Sementara itu, Ketua DPRD Gunungkidul Endang Sri Sumiyartini menilai, keberadaan bus sekolah selama ini sangat membantu masyarakat. Terutama dalam menekan angka kecelakaan lalu lintas di kalangan pelajar. “Operasional bus sekolah ini bagus dan sangat membantu untuk antar jemput anak sekolah,” ujarnya.
Karena itu, DPRD berkomitmen memperjuangkan tambahan anggaran melalui pembahasan APBD Perubahan agar layanan tetap berlanjut. “Jangan sampai berhenti beroperasi,” tandasnya. (bas/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita